
TULUNGAGUNG (KUBUS.ID) – Satuan Tugas Makan Bergizi Gratis (Satgas MBG) Tulungagung bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) melakukan observasi lanjutan di lingkungan SMKN 3 Boyolangu, Rabu (21/1). Langkah ini dilakukan menyusul dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami ratusan siswa pada Senin (19/1) lalu.
Observasi lanjutan tersebut bertujuan memastikan kondisi kesehatan siswa dan guru, sekaligus menelusuri penyebab kejadian melalui survei epidemiologi (SE) serta pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan menyasar sekitar 2.000 siswa SMKN 3 Boyolangu yang menjadi penerima MBG.
Ketua Satgas MBG Tulungagung, Johanes Bagus Kuncoro, mengatakan observasi lanjutan dilakukan oleh Dinkes selaku anggota Satgas MBG. Selain itu, telah dilakukan penutupan sementara terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Mutiara Rawa Selatan di Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu, untuk kepentingan evaluasi.
“Yang melakukan observasi adalah Dinkes selaku anggota satgas, dan dari koordinator wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) juga telah melakukan penutupan sementara terhadap SPPG terkait sambil tim satgas melakukan evaluasi,” ujar Johanes.
Sebelumnya diberitakan, sebanyak 123 siswa SMKN 3 Boyolangu mengalami gangguan pencernaan setelah mengkonsumsi MBG yang dibagikan oleh SPPG Yayasan Mutiara Rawa Selatan pada Senin (19/1).
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tulungagung, dr Aris Setiawan, menjelaskan setiap kejadian gangguan kesehatan massal akan ditindaklanjuti dengan prosedur standar berupa survei epidemiologi dan pengiriman sampel makanan untuk pemeriksaan laboratorium.
“Di saat ada kejadian seperti ini, otomatis ditindaklanjuti dengan survei epidemiologi dan pengiriman sampel makanan yang dikonsumsi kemarin,” jelas dr Aris.
Menurutnya, observasi dilakukan terhadap seluruh pihak yang mengonsumsi MBG, baik siswa maupun guru. Survei epidemiologi tersebut merupakan bagian dari standar operasional prosedur (SOP) yang wajib dilaksanakan dalam setiap kasus dugaan keracunan makanan.
“Ini sudah SOP, memang harus dikerjakan setiap ada kejadian. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan laboratorium supaya hasilnya sesuai keilmuan,” pungkasnya. (far)
































