Beranda Nasional Anjlokya Saham IHSG Jadi Sorotan, Pengamat Nilai Kondisi Tak Wajar dan Cerminkan...

Anjlokya Saham IHSG Jadi Sorotan, Pengamat Nilai Kondisi Tak Wajar dan Cerminkan Ekonomi Jalan di Tempat

21
Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian serius. (Foto. ANTARAnews)

JAKARTA, (KUBUS.ID) — Rontoknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian serius para pengamat ekonomi. Meski pemerintah menyatakan penurunan IHSG bukan sinyal negatif dan meyakini indeks akan kembali menguat hingga level 9.000 bahkan 10.000, sejumlah pengamat menilai kondisi tersebut justru menunjukkan persoalan fundamental ekonomi nasional.

Pengamat Ekonomi Universitas Surabaya (Ubaya), Prof. Drs. EC Wibisono, M.S., menilai penurunan IHSG saat ini tidak terjadi secara wajar. Hal tersebut dipicu oleh rendahnya kepercayaan investor, khususnya setelah rilis data Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyebut sejumlah saham Indonesia dikeluarkan dari daftar mereka tanpa disertai keterbukaan informasi yang memadai.

“Rontoknya IHSG kali ini tidak bisa dianggap biasa. Ada persoalan kepercayaan investor yang cukup serius akibat kurangnya transparansi informasi,” kata Wibisono saat mengudara di Radio ANDIKA pada Kamis, (29/01).

Ia menjelaskan, pasar modal Indonesia yang terbuka bagi investor global membuat respons pasar berlangsung cepat. Banyak investor memilih melakukan aksi profit taking atau ambil untung, yang pada akhirnya menekan IHSG dalam beberapa hari terakhir.

“Ketika kepercayaan turun, investor global langsung bereaksi. Ini yang menyebabkan penurunan IHSG terjadi cukup tajam,” jelasnya.

Anjloknya IHSG tersebut, menurut Wibisono, berpotensi memicu perlambatan pemulihan indeks dalam waktu dekat. Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia belum mengalami peningkatan signifikan dan cenderung berjalan di tempat.

“Ini membuktikan bahwa ekonomi kita belum benar-benar tumbuh. Masih stagnan, belum ada lonjakan yang mencerminkan perbaikan fundamental,” katanya.

Wibisono juga menyoroti faktor kebijakan dan dinamika politik ekonomi, termasuk pengangkatan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia, yang dinilainya turut memengaruhi persepsi pelaku ekonomi. Selain itu, pidato Presiden Prabowo Subianto yang kerap menyampaikan optimisme pertumbuhan ekonomi dinilai belum sepenuhnya sejalan dengan kondisi di lapangan.

“Kalau antara pernyataan dan realitas tidak selaras, itu bisa menjadi bumerang, apalagi target pertumbuhan ekonomi 8 persen terus digaungkan,” ujarnya.

Ia menilai pemerintah seharusnya lebih agresif dalam memberikan stimulus kepada pelaku ekonomi agar pergerakan ekonomi nasional tidak stagnan. Hal ini diperlukan meski Menteri Koordinator Perekonomian dan Menteri Keuangan kerap menyampaikan keyakinan bahwa ekonomi Indonesia berada dalam kondisi baik.

“Dengan kondisi seperti sekarang, saya pesimis ekonomi Indonesia bisa tumbuh 8 persen. Target tersebut akan sulit dicapai,” tegasnya.

Menurut Wibisono, tanpa pembenahan fundamental ekonomi secara serius, visi besar seperti Indonesia Emas 2045 berpotensi hanya menjadi jargon semata.

“Kalau pemerintah tidak melihat dan membenahi fundamental ekonomi secara intensif, Indonesia Emas 2045 bisa saja hanya menjadi slogan,” pungkasnya. (eko)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini