KEDIRI, (KUBUS.ID) — Maraknya pemberitaan kasus anak yang terlibat pembunuhan terhadap orang tua maupun saudara terdekat mendapat perhatian serius dari kalangan akademisi. Terbaru Kasus kematian tiga orang dalam satu keluarga di kawasan Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Kepala Laboratorium Psikologi UIN Kediri, Dr. Imron Muzakki, menyebut fenomena tersebut dalam kajian psikologi forensik dikenal dengan istilah parricide, yakni tindakan anak yang menghabisi nyawa ayah atau ibu kandungnya serta saudaranya.
Dr. Imron menjelaskan bahwa secara statistik, kasus parricide tergolong langka. Namun, karena sering menjadi viral di media sosial, kasus-kasus tersebut seolah tampak meningkat dan menjadi atensi besar di tengah masyarakat.
“Kasusnya sebenarnya jarang, tetapi karena viralitas media sosial, dampaknya menjadi sangat luas secara psikologis dan sosial,” katanya saat mengudara di Radio ANDIKA Kediri, Senin, (09/02/2026).
Menurutnya, motif di balik tindakan ekstrim tersebut tidak bisa disimpulkan secara sederhana. Motif pelaku baru dapat dipahami secara komprehensif setelah dilakukan psikodiagnostik yang mendalam.
“Faktornya beragam, mulai dari tekanan psikologis yang berlangsung terus-menerus hingga akumulasi luka batin dari pengalaman masa lalu,” jelasnya.
Dr. Imron menegaskan bahwa pola asuh menjadi salah satu faktor dominan yang perlu diwaspadai. Pola asuh yang keliru, penuh tekanan, atau minim kehangatan berpotensi menimbulkan risiko psikologis serius bagi anak.
“Pola asuh yang tidak sehat bisa menjadi faktor utama yang membentuk kerentanan psikologis anak hingga berujung pada perilaku di luar kendali,” katanya.
Selain faktor keluarga, ia juga menyoroti pengaruh paparan media sosial yang kini sangat mudah diakses oleh anak-anak. Konten kekerasan, narasi ekstrem, maupun glorifikasi tindakan brutal dapat menjadi trigger yang memperkuat dorongan agresif pada anak yang secara psikologis sudah rapuh.
Untuk mencegah dan menangani kasus serupa, Dr. Imron menekankan pentingnya pendekatan preventif melalui pengasuhan yang sehat. Ia menyarankan orang tua untuk membangun komunikasi yang terbuka dan menjadi pendengar yang baik bagi anak.
“Pengasuhan positif berbasis cinta, empati, dan penerimaan menjadi kunci utama mitigasi risiko,” tegasnya.
Ia berharap kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental anak semakin meningkat, sehingga pencegahan dapat dilakukan sejak dini sebelum konflik psikologis berkembang menjadi tragedi. (far)

































