Beranda Kediri Raya Proyek Hilirisasi Ayam Terintegrasi Pemerintah Dinilai Wajar, Peternak Rakyat Diminta Tak Khawatir

Proyek Hilirisasi Ayam Terintegrasi Pemerintah Dinilai Wajar, Peternak Rakyat Diminta Tak Khawatir

4
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menyinggung soal hilirisasai ayam. (Foto. AntaraNews)

BLITAR, (KUBUS.ID) – Pemerintah mulai menjalankan program hilirisasi ayam terintegrasi di enam daerah sebagai upaya memperkuat swasembada protein nasional. Program ini bertujuan meningkatkan nilai tambah sektor peternakan sekaligus menjaga stabilitas pasokan pangan bagi masyarakat secara berkelanjutan.

Namun, langkah tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan peternak rakyat. Mereka menilai hilirisasi ayam terintegrasi berpotensi mengancam eksistensi peternak kecil karena dikhawatirkan menjadi pesaing baru bagi komoditas yang saat ini mulai stabil.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar, Heri Widyatmoko, menyatakan bahwa kekhawatiran peternak merupakan hal yang wajar. Menurutnya, hilirisasi ayam memang tidak hanya menambah populasi ayam, tetapi juga memperpanjang rantai pasok, sehingga persaingan di sektor ini menjadi lebih luas.

“Hilirisasi ayam terintegrasi memang akan menambah suplai dan pemain baru, sehingga kekhawatiran peternak rakyat itu wajar,” kata Heri saat mengudara di Radio ANDIKA Kediri, Senin, (09/02).

Meski demikian, Heri menegaskan bahwa tujuan utama program hilirisasi ayam terintegrasi adalah untuk mencukupi kebutuhan Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh Indonesia. Selama ini, daerah di luar Pulau Jawa masih bergantung pada pasokan telur dari Jawa, sehingga pemerintah mendorong agar setiap wilayah mampu memenuhi kebutuhannya sendiri.

“Di luar Jawa, suplai telur masih sangat bergantung dari Jawa. Harapan pemerintah, ke depan masing-masing wilayah bisa memenuhi kebutuhannya sendiri,” jelasnya.

Heri juga menekankan bahwa jika melihat kebutuhan secara nasional, produksi ayam dan telur sebenarnya masih belum mencukupi. Bahkan di Pulau Jawa sendiri, kebutuhan protein hewani masih tergolong tinggi.

“Oleh karena itu, pemerintah mengupayakan hilirisasi untuk menambah suplai. Dalam kondisi saat ini, peternak sebenarnya tidak perlu khawatir,” katanya.

Ia menambahkan, selama harga produk tidak anjlok dan tetap berada di atas biaya produksi, iklim usaha peternak rakyat akan tetap aman dan tidak menimbulkan gejolak. Indikatornya, selama harga masih menguntungkan, usaha peternakan akan tetap berjalan stabil.

Sebagai contoh, proyek hilirisasi di Malang difokuskan pada produksi bibit ayam (DOC) agar tidak terjadi antrean pasokan. Dengan demikian, kebutuhan DOC di luar Jawa dapat terpenuhi sesuai kebutuhan masing-masing daerah.

“Ke depan, di Lampung direncanakan akan dibangun Rumah Potong Unggas (RPU) terbesar. Sementara di Kalimantan Timur akan dikembangkan peternakan ayam petelur seperti di Jawa. Ini agar rantai pasok tetap terjaga dan distribusi lebih merata,” pungkasnya. (far)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini