Beranda Religi UAH Mengingatkan Golongan Orang yang Celaka di Bulan Ramadan

UAH Mengingatkan Golongan Orang yang Celaka di Bulan Ramadan

2580
Ustadz Adi Hidayat (UAH) (Foto tangkapan layar YouTube)

KUBUS.ID – Hari ini, Jumat (6/3), umat Islam di Indonesia memasuki hari ke-16 puasa Ramadan 1447 Hijriah. Ustadz Adi Hidayat mengingatkan agar kita tidak sekadar menjalani puasa sebagai rutinitas tahunan. Ramadan, menurut dai yang akrab disapa UAH ini, adalah momentum besar untuk meraih ampunan Allah. Siapa yang menyia-nyiakannya, justru berpotensi masuk dalam golongan yang celaka.

Mengutip kanal YouTube Adi Hidayat Official, dalam sebuah khutbah UAH menyoroti peristiwa ketika Nabi Muhammad SAW naik mimbar dan mengucapkan “amin” sebanyak tiga kali. Peristiwa itu, kata dia, bukan kejadian biasa.

Hadis tersebut diriwayatkan antara lain oleh Jabir bin Samurah dan didokumentasikan oleh sejumlah ulama hadis seperti Al-Bazzar, Muslim ibn al-Hajjaj, serta Al-Tirmidzi.

Menurut Ustadz Adi Hidayat, saat Nabi menaiki tiga anak tangga mimbar, malaikat Jibril datang dan menyampaikan tiga doa yang masing-masing diakhiri dengan perintah kepada Nabi untuk mengucapkan amin.

“Biasanya Nabi yang berdoa lalu malaikat yang mengaminkan. Tapi pada hadis ini justru malaikat yang berdoa dan Nabi mengaminkan. Itu menunjukkan doa tersebut sangat agung dan serius,” jelasnya.

Celaka Jika Ramadan Tak Menghapus Dosa

Doa pertama malaikat Jibril, lanjutnya, berisi peringatan keras bagi orang yang mendapati Ramadan tetapi tidak mendapatkan ampunan Allah.

Istilah yang digunakan dalam hadis adalah raghima anfuhu—secara harfiah berarti “tercoreng hidungnya”. Dalam tradisi Arab klasik, ungkapan tersebut menggambarkan kehinaan dan kecelakaan besar.

“Artinya sangat celaka seseorang yang sudah diberi kesempatan bertemu Ramadan, tetapi tidak memanfaatkan bulan itu untuk meraih ampunan Allah,” ujar Ustadz Adi Hidayat.

Padahal, kata dia, Ramadan merupakan periode istimewa di mana peluang pengampunan dosa terbuka luas, baik siang maupun malam.

Ia mengutip hadis Nabi yang menyebutkan bahwa siapa yang menegakkan salat malam Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni. Begitu pula dengan puasa yang dijalankan dengan penuh keimanan.

Ampunan Lebih Berharga dari Dunia

Ustadz Adi Hidayat menegaskan, dalam perspektif Islam, ampunan Allah jauh lebih berharga dibandingkan seluruh kenikmatan dunia.

Menurutnya, kekayaan, jabatan, maupun keberhasilan duniawi bukan otomatis tanda cinta Allah kepada seseorang. Banyak tokoh dalam sejarah yang memiliki kekuasaan dan harta melimpah, tetapi justru dikenal karena kesombongannya.

“Kalau Allah mencintai seorang hamba, tanda pertamanya bukan harta atau jabatan. Tanda terbesarnya adalah diampuni dosa-dosanya,” ujarnya.

Karena itu Ramadan disebut sebagai momentum istimewa. Berbagai amal seperti salat tarawih, puasa, membaca Al-Qur’an, sedekah, hingga memperbaiki akhlak dapat menjadi sebab dihapusnya dosa.

“Bayangkan, malamnya ampunan, siangnya ampunan. Sepanjang Ramadan peluang itu terbuka,” kata dia.

Jangan Jalani Ramadan Secara Formalitas

Namun Ustadz Adi Hidayat juga mengingatkan, tidak sedikit orang yang menjalani Ramadan sekadar formalitas. Puasa hanya menahan lapar dan haus, tanpa memperbanyak amal saleh.

Ia mencontohkan kebiasaan yang sering terjadi: mengisi waktu puasa hanya dengan tidur, malas berzikir, enggan salat tarawih, hingga jarang memohon ampun kepada Allah.

“Puasa dengan iman itu bukan sekadar tidak makan dan minum. Puasa yang benar akan mendorong seseorang memperbanyak amal saleh,” katanya.

Ramadan sebagai Bekal Pulang

Dalam khutbahnya, Ustadz Adi Hidayat juga mengajak umat Islam merenungkan tujuan hidup. Manusia, menurutnya, sangat serius menyiapkan bekal perjalanan dunia, tetapi sering lalai mempersiapkan perjalanan menuju akhirat.

“Kalau kita mau ke kota lain saja kita menyiapkan bekal. Tapi kita semua pasti akan pulang ke akhirat. Sudah berapa bekal amal yang kita kumpulkan?” ujarnya.

Karena itu, ia mengingatkan agar sisa Ramadan dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memperbanyak amal dan memohon ampunan.

“Belum tentu tahun depan kita masih bertemu Ramadan. Maka jadilah orang yang beruntung, bukan orang yang celaka karena menyia-nyiakan kesempatan ini,” pesannya.(adr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini