Beranda Religi Berburu Lailatul Qadar, Pesan UAH di Pengujung Ramadan

Berburu Lailatul Qadar, Pesan UAH di Pengujung Ramadan

1623
Ustadz Adi Hidayat (UAH) (Foto: tangkapan layar YouTube)

KUBUS.ID – Ramadan bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan. Di dalamnya terdapat satu malam istimewa yang nilainya melampaui puluhan tahun ibadah manusia. Hal itu disampaikan oleh Ustaz Adi Hidayat (UAH), dalam kajian menjelang akhir Ramadan, dikutip dari kanal YouTube resminya, Adi Hidayat Official, Rabu (11/3).

Menurut UAH, setiap muslim dianjurkan memperbanyak doa selama Ramadan. Doa tersebut, kata dia, setidaknya terbagi menjadi dua. Pertama, doa pokok terkait keimanan dan keislaman. Kedua, doa yang berkaitan dengan aktivitas kehidupan di dunia.

“Mintalah kepada Allah agar dikuatkan iman, istiqamah sampai wafat, dan diberi kemampuan menunaikan amal saleh,” ujar UAH dalam kajian tersebut.

Perkuat Lima Pilar Islam

UAH mengingatkan, doa juga seharusnya berkaitan dengan lima pilar utama dalam Islam: syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji. Ia menilai, tidak banyak muslim yang secara khusus memohon agar diberi kekuatan menjalankan kelima rukun tersebut secara konsisten.

Godaan terhadap setiap manusia, lanjutnya, berbeda-beda. Ada yang digoda melalui harta, kedudukan, maupun ambisi dunia. Jika tidak dijaga, godaan itu dapat menyeret seseorang pada kesalahan bahkan kemusyrikan.

Karena itu, ia mendorong umat Islam memohon kekuatan agar mampu menunaikan salat dengan baik, berzakat, menjalankan puasa, hingga memiliki kemampuan menunaikan ibadah haji.

“Minimal berdoalah agar sepanjang hidup bisa menunaikan zakat atau haji, walaupun sekali,” katanya.

Lailatul Qadar, Malam Lebih Baik dari 1000 Bulan

Dalam kesempatan itu, UAH juga menjelaskan keistimewaan Lailatul Qadar, malam yang disebut dalam Surah Al-Qadr. Malam tersebut, kata dia, memiliki nilai ibadah yang luar biasa.

Al-Qur’an menyebutkan bahwa ibadah pada malam tersebut lebih baik dari seribu bulan. Artinya, satu amal yang dilakukan pada malam itu dapat melampaui pahala ibadah selama lebih dari 80 tahun.

“Jika seseorang beribadah pada malam itu, nilainya bisa melebihi seluruh amal yang ia lakukan selama hidupnya,” terang UAH.

Ia menambahkan, malam tersebut juga menjadi momentum turunnya para malaikat ke bumi, dipimpin oleh Malaikat Jibril. Kehadiran para malaikat itu membawa keberkahan, termasuk pengabulan doa dan ampunan bagi hamba yang memohon kepada Allah.

Momentum Mengingat Tujuan Hidup

UAH menekankan bahwa pesan utama dari Lailatul Qadar adalah mengingatkan manusia pada tujuan hidup yang sebenarnya, yakni kehidupan akhirat. Dunia, menurutnya, hanyalah tempat menjalankan tugas sebelum akhirnya kembali kepada Allah.

“Ramadan adalah momentum untuk memperkuat proyek akhirat kita, bukan sekadar mengejar urusan dunia,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Bukan hanya dibaca, tetapi juga dipahami dan diamalkan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga kehidupan keluarga.

Dua Kunci Mendapatkan Malam Mulia

Di akhir kajiannya, UAH menyampaikan dua kunci sederhana untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar.

Pertama, konsisten menghidupkan malam-malam Ramadan dengan ibadah, meski hanya beberapa menit antara setelah isya hingga menjelang fajar.

Kedua, menjauhi perbuatan maksiat.

“Rumusnya sederhana: hidupkan malam Ramadan dengan ibadah dan jauhi maksiat,” pungkasnya.

Dengan memaksimalkan sisa malam Ramadan, umat Islam diharapkan dapat meraih kemuliaan Lailatul Qadar sekaligus memperkuat bekal menuju kehidupan akhirat.(adr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini