TULUNGAGUNG, (KUBUS.ID) – Merespons kasus dugaan keracunan MBG di SDN 3 Bungur pagi tadi, Koordinator Wilayah BGN Tulungagung, Sebrina Mahardika, memastikan bahwa SPPG Bungur, pemasok MBG di SDN 3 Bungur, belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
SPPG yang dimaksud baru beroperasi sekitar 1–2 bulan. Pengurus SPPG juga masih dalam proses pengajuan SLHS.
“SPPG-nya ini memang SLHS belum ada karena kan baru running juga, kurang dari dua bulan. Baru mau dua bulan. Ketika (pendaftaran) SLHS manual itu juga sudah ditutup kan,” bebernya.
Adapun proses pendaftaran SLHS secara manual dibatasi hingga November tahun lalu. Namun, pendaftaran secara daring melalui portal OSS masih dibuka.
“Terakhir November. Namun sudah diproses secara OSS. Dan besok itu rencananya seharusnya IKL dari Dinkes,” sebutnya.
Disinggung lebih jauh terkait insiden yang menyebabkan 24 siswa SDN 3 Bungur mengalami dugaan keracunan, Sebrina mengatakan bahwa Korwil BGN masih menanti hasil analisis lebih lanjut atas berbagai aspek di lapangan.
Sebrina juga memastikan bahwa proses Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) tetap akan berlangsung. Sebab, hal itu termasuk dalam poin evaluasi yang digelar oleh BGN.
“Sekalian, tidak hanya IKL. Berarti kan evaluasi,” paparnya.
Untuk diketahui, salah satu menu yang disuguhkan oleh SPPG Bungur pada pagi ini adalah ayam suwir. Padahal, lanjut Sebrina, ayam suwir merupakan salah satu menu yang masuk dalam kategori riskan penurunan kualitas menurut BGN.
“Kita bicara ayam ini memang rawan, apalagi ayam suwir. Ayam suwir ini sudah diperingatkan dari BGN, memang tidak disarankan untuk kita pakai,” ujar Sebrina.
Ia memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG, termasuk adanya laporan yang menyebutkan SPPG tersebut berlokasi tidak jauh dari sumber pencemaran.(dit/adr)

































