KUBUS.ID – Memasuki pertengahan Ramadan 1447 H, layar kaca dan linimasa kita berubah menjadi etalase surga duniawi. Anda tahu polanya: Keluarga dengan baju seragam warna pastel yang bersih tanpa noda, rumah minimalis seharga miliaran yang mendadak bercahaya, dan meja makan yang dipenuhi hidangan dari ujung ke ujung. Semuanya diakhiri dengan tawa renyah sambil menuangkan sirup merah ke dalam gelas kristal.
Selamat datang di Estetika Ramadan Buatan. Sebuah konstruksi visual yang perlahan namun pasti menipu kita tentang apa itu arti “kemenangan” dan “kebahagiaan”.
Standarisasi Kebahagiaan yang Diskriminatif
Iklan-iklan Ramadan—mulai dari margarin, sarung, hingga operator seluler—selalu menampilkan keluarga nuklir yang sempurna. Ayah, ibu, dan dua anak yang semuanya putih, bersih, dan tampak tidak pernah merasakan pusingnya cicilan pinjol atau harga beras yang meroket.
Pesan subliminalnya sangat kejam: “Jika Ramadanmu tidak seperti ini, maka kamu kurang bahagia.” Bagi jutaan keluarga yang berbuka di kontrakan sempit dengan kipas angin berisik, atau mereka yang harus bekerja lembur sebagai kurir di tengah malam takbiran, visual ini adalah tamparan. Kita diajarkan bahwa kebahagiaan Ramadan harus dibeli melalui produk. Takwa seolah-olah butuh sponsor, dan keberkahan seolah-olah butuh filter kamera yang mahal.
Romantisasi Kemiskinan demi Penjualan
Puncak dari kemunafikan iklan adalah ketika mereka menggunakan narasi “berbagi”. Kita melihat aktor yang berperan sebagai orang miskin, menerima paket bingkisan dengan musik yang menyayat hati, lalu diakhiri dengan logo brand besar.
Ini bukan syiar, ini adalah eksploitasi. Kemiskinan dijadikan latar belakang (properti) untuk menaikkan citra perusahaan. Mereka menjual rasa haru agar kita tergerak untuk membeli produk mereka. Ramadan telah diubah menjadi komoditas perasaan, di mana air mata kemiskinan bernilai sama dengan angka penjualan kuartal kedua.
Kritik Tajam: Iklan-iklan ini tidak sedang mengajarkan kita untuk peduli pada yang miskin, mereka sedang mengajarkan kita bagaimana caranya “terlihat peduli” sambil tetap mengonsumsi produk mereka.
“Keluarga Bahagia” yang Palsu
Pernahkah Anda merasa sedih melihat iklan mudik di mana sang anak pulang membawa mobil baru dan disambut pelukan hangat orang tua di kampung? Iklan semacam ini membangun ekspektasi bahwa pulang kampung adalah ajang pembuktian kesuksesan finansial.
Akibatnya, banyak orang yang merasa gagal hanya karena tidak bisa mudik dengan tangan penuh oleh-oleh mahal. Iklan-iklan ini menciptakan standar sosial yang palsu. Kita jadi lebih peduli pada “tampak luar” keluarga kita di media sosial daripada kehangatan asli di dalam rumah. Kita sibuk membeli baju seragam agar mirip dengan iklan di TV, padahal komunikasi antar anggota keluarga sedang hambar-hambarnya.
Akhir Kata: Ramadan Bukan Milik Para Model
Ramadan 1447 H ini, mari kita sadari bahwa kebahagiaan yang dijajakan di iklan hanyalah ilusi optik. Kebahagiaan sejati tidak membutuhkan gelas kristal atau baju koko rancangan desainer ternama.
Ramadan juga milik mereka yang berbuka dengan mi instan di pos satpam. Ramadan tetap sah bagi mereka yang sarungnya sudah kusam dan berlubang. Ramadan tetap berkah bagi mereka yang tidak bisa pulang kampung karena tidak punya uang.
Jangan biarkan standar “bahagia” Anda ditentukan oleh agensi periklanan. Berhentilah membandingkan meja makanmu yang sederhana dengan meja makan di iklan sirup. Karena Tuhan tidak turun ke bumi melalui antena TV atau kabel serat optik, melainkan melalui ketulusan hati yang menerima apa adanya.





























