
KEDIRI, (KUBUS.ID) – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, suasana khidmat menyelimuti Kelenteng Tjoe Hwie Kiong, Kota Kediri. Asap hio mengepul perlahan, doa-doa dipanjatkan, menandai digelarnya Sembahyang Sung Sen—ritual sakral yang membuka rangkaian penyambutan tahun baru bagi umat Tridharma.
Sung Sen merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan setiap tanggal 24 bulan 12 dalam kalender Imlek. Ritual ini dimaknai sebagai prosesi “mengantar” Dewa-Dewi kembali ke Kahyangan untuk melaporkan perilaku dan perbuatan manusia selama setahun terakhir. Karena diyakini para Dewa sedang tidak bersemayam di altar, momen ini menjadi satu-satunya waktu dalam setahun bagi umat untuk menyentuh dan membersihkan altar serta rupang secara menyeluruh.
Namun, proses pembersihan ini jauh dari kata biasa. Tidak semua orang diperkenankan terlibat. Para petugas wajib menjalani puasa minimal tiga hari sebelumnya, dengan pantangan mengonsumsi daging serta keharusan menjaga pikiran dan perilaku agar tetap bersih dan selaras dengan nilai kesucian ritual.
“Kami tidak sekadar membersihkan debu. Ini adalah wujud pengabdian. Para petugas harus berpuasa, tidak makan daging, serta menjaga sikap dan perilaku agar hati tetap suci saat menyentuh sarana peribadatan,” ujar Ketua Umum Yayasan Tri Dharma Tjoe Hwie Kiong, Prayitno, Rabu (11/2).
Proses penyucian rupang berlangsung maraton selama 8 hingga 9 jam, dimulai pukul 12.00 WIB. Sebanyak 17 altar dengan lebih dari 100 rupang disucikan satu per satu. Ritual diawali dari Altar Utama Dewi Samudra, Mak Co Thian Shang Sheng Mu. Setiap rupang terlebih dahulu didokumentasikan posisinya, kemudian jubah dilepas, dicuci menggunakan air sabun, dibilas dengan air bunga, sebelum dikembalikan ke tempat semula.
Sebagai penutup, umat melaksanakan ritual pwee, yakni komunikasi spiritual untuk memastikan para Dewa-Dewi berkenan kembali menempati singgasana masing-masing.
“Altar utama kami adalah Dewi Samudra. Total ada lebih dari 100 rupang yang disucikan. Setelah selesai, kami memastikan kembali melalui pwee apakah penataan sudah tepat dan para Dewa-Dewi berkenan kembali,” imbuh Prayitno.
Rangkaian perayaan Imlek di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong dimulai hari ini, Rabu (11/2), dengan ritual Sung Sen. Agenda berlanjut pada 16 Februari dengan sembahyang Buka Tahun pukul 19.00 WIB, disusul sembahyang Tutup Tahun tepat tengah malam. Pada 24 Februari, umat akan menggelar sembahyang Tolak Balak dan ungkapan syukur. Seluruh rangkaian tersebut akan mencapai puncaknya pada 3 Maret 2026 melalui perayaan Cap Go Meh yang bertepatan dengan malam purnama pertama.(sof/adr)





























