KUBUS.ID – Di era modern, banyak orang merasa hidupnya kurang memuaskan. Segala pencapaian dan kenyamanan yang kita miliki tidak selalu berbanding lurus dengan rasa bahagia. Justru, burnout atau kejenuhan semakin sering kita jumpai. Fenomena ini bukan hanya terjadi pada pekerja kantoran, tapi juga pelajar, orang tua rumah tangga, hingga mereka yang memasuki masa pensiun.
Lalu, bagaimana cara kita keluar dari lingkaran ketidakpuasan ini? Salah satu jawabannya adalah dengan menciptakan joyspan—konsep yang memperluas makna kebahagiaan menjadi sesuatu yang tahan lama, bukan sekadar momen singkat.
Apa Itu Joyspan?
Joyspan adalah istilah yang diperkenalkan oleh Kerry Burnight, PhD, seorang pakar gerontologi (ilmu yang mempelajari penuaan). Menurutnya, banyak orang terjebak pada anggapan bahwa kebahagiaan adalah momen sesaat—misalnya saat liburan, menerima bonus, atau berhasil mencapai target tertentu. Padahal, setelah momen itu berlalu, rasa bahagia pun sering ikut menghilang.
Joyspan menawarkan perspektif baru: kebahagiaan adalah perjalanan panjang yang bisa dirawat setiap hari. Alih-alih hanya mengejar “puncak kebahagiaan”, kita diajak untuk membangun aliran sukacita yang berkesinambungan.
“Ketika kita berbicara tentang joyspan, kita membicarakan rentang kebahagiaan yang dapat diperpanjang. Sama seperti rentang hidup, kita bisa memperluas rentang bahagia dengan langkah-langkah yang sederhana namun konsisten,” jelas Dr. Burnight.
Krisis Kebahagiaan di Era Modern
Mengapa konsep joyspan relevan saat ini? Karena kita hidup di tengah budaya yang serba cepat, kompetitif, dan penuh tuntutan. Media sosial membuat kita membandingkan diri dengan orang lain setiap hari. Pekerjaan menuntut produktivitas tanpa henti. Bahkan, penuaan sering dianggap sebagai sesuatu yang harus dilawan, bukan diterima.
Akibatnya, banyak orang mengalami “krisis kebahagiaan”. Hidup berjalan, tapi rasa puas tidak kunjung hadir. Di sinilah joyspan hadir sebagai “penawar”—sebuah cara pandang yang bisa membantu kita menghadapi burnout, pesimisme, dan rasa hampa.
Mengapa Joyspan Penting untuk Kesehatan?
Tidak bisa dipungkiri, kebahagiaan punya kaitan erat dengan kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang lebih bahagia cenderung memiliki sistem kekebalan tubuh lebih kuat, risiko penyakit kronis lebih rendah, dan harapan hidup lebih panjang.
Namun, kebahagiaan yang sesaat saja tidak cukup. Itulah mengapa joyspan begitu penting. Dengan memperpanjang rasa sukacita, kita tidak hanya menjaga kesehatan mental, tetapi juga memberi perlindungan pada tubuh.
Dr. Burnight juga menekankan bahwa di usia lanjut, saat kita lebih sering dihadapkan pada percakapan tentang tubuh yang menua atau kehilangan orang terkasih, joyspan menjadi semakin penting. Dengan menjaga aliran kebahagiaan, seseorang tetap bisa merasa kuat, tenang, dan optimis meski hidup penuh perubahan.
Cara Mengukur Joyspan dalam Hidup Kita
Sebelum memperpanjang joyspan, ada baiknya kita mengetahui sejauh mana rentang kebahagiaan kita saat ini. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menulis jurnal.
Aktivitas sederhana ini sering diremehkan, padahal manfaatnya luar biasa. Dengan menulis, kita bisa memahami pola emosi, mengenali apa yang sering mencuri kebahagiaan, dan mengingat kembali momen yang membuat kita bersyukur.
Pertanyaan yang bisa ditulis dalam jurnal antara lain:
- Apa saja hal kecil yang membuat saya tersenyum hari ini?
- Kapan terakhir kali saya merasa benar-benar bahagia?
- Apa yang sedang mengganggu rasa damai saya saat ini?
- Faktor apa saja yang sering membuat saya stres?
Dengan refleksi ini, kita bisa mulai mengukur joyspan dan menemukan celah untuk memperluasnya.
Cara Memperpanjang Rasa Bahagia
Setelah tahu di mana posisi kita, langkah selanjutnya adalah memperluas rentang kebahagiaan. Berikut beberapa cara sederhana:
1. Rayakan Kemenangan Kecil
Banyak orang hanya merayakan pencapaian besar, padahal kemenangan kecil pun patut dirayakan. Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, berhasil bangun pagi, atau bahkan meluangkan waktu untuk olahraga adalah bentuk kemenangan. Catatlah setiap detail kebahagiaan itu, baik di jurnal atau rekaman suara. Dengan begitu, kita bisa menikmati ulang momen positif dan belajar cara menciptakan lebih banyak kebahagiaan.
2. Atur Ulang Sistem Saraf
Kebahagiaan bisa cepat hilang jika sistem saraf kita tidak stabil. Itulah mengapa teknik relaksasi seperti latihan pernapasan sangat membantu. Caranya sederhana: tarik napas dalam melalui hidung hingga perut mengembang, lalu hembuskan perlahan lewat mulut. Ulangi beberapa kali hingga tubuh terasa rileks. Dengan saraf yang tenang, kita lebih mampu mempertahankan rasa bahagia meski ada tekanan.
3. Kurangi Pencuri Kebahagiaan
Banyak hal kecil bisa merusak mood kita tanpa disadari—macet di jalan, sulit mencari parkir, atau melihat cucian menumpuk sepulang kerja. Jika memungkinkan, atasi pencuri kebahagiaan ini. Misalnya dengan berangkat lebih awal, mencari alternatif transportasi, atau membagi pekerjaan rumah dengan anggota keluarga.
4. Bangun Koneksi Sosial yang Hangat
Studi menunjukkan bahwa hubungan sosial yang sehat adalah salah satu kunci kebahagiaan jangka panjang. Luangkan waktu untuk bercengkerama dengan teman, keluarga, atau komunitas. Kehadiran orang-orang terdekat bisa menjadi “bahan bakar” utama joyspan kita.
5. Latih Rasa Syukur Setiap Hari
Rasa syukur adalah fondasi kebahagiaan yang tahan lama. Sempatkan waktu sebelum tidur untuk menuliskan tiga hal yang disyukuri hari itu. Bisa hal besar seperti kesehatan, atau hal kecil seperti secangkir kopi hangat di pagi hari. Semakin sering dilatih, semakin mudah otak kita fokus pada hal-hal positif.
Hidup dengan Joyspan
Joyspan bukan sekadar teori, melainkan sebuah praktik hidup. Ia mengajak kita untuk berhenti mengejar kebahagiaan sesaat, dan mulai merawat sukacita yang lebih dalam dan berkelanjutan.
Hidup memang penuh tantangan, tetapi ketika kita punya “rentang bahagia” yang panjang, kita bisa menghadapi kesulitan dengan lebih kuat. Burnout mungkin datang, tapi kita punya “tabungan kebahagiaan” yang bisa melindungi diri.
Seperti kata Dr. Burnight, “Joyspan adalah tentang bagaimana kita merawat kebahagiaan sepanjang hidup. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga agar kita bisa menularkannya kepada orang-orang di sekitar kita.”
Jadi, sudah siap memperpanjang joyspan dalam hidupmu? (thw)
Source: kompas.com