KEDIRI, (KUBUS.ID) – Kabar menggembirakan datang bagi petani di Kabupaten Kediri. Alokasi pupuk bersubsidi tahun anggaran 2026 dipastikan meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) memastikan stok aman dan siap disalurkan sejak awal tahun.
Peningkatan alokasi ini mencakup hampir seluruh jenis pupuk utama. Data Dispertabun menunjukkan, alokasi pupuk Urea naik dari 34.815.000 kilogram pada 2025 menjadi 35.721.000 kilogram pada 2026, atau meningkat 2,6 persen. Kenaikan lebih mencolok terjadi pada pupuk NPK Ponska, dari 38.627.000 kilogram menjadi 45.629.000 kilogram, atau naik 18,12 persen.
Lonjakan paling tinggi tercatat pada pupuk organik. Jika pada 2025 hanya dialokasikan 3.078.000 kilogram, maka pada 2026 melonjak menjadi 5.858.000 kilogram, atau naik hingga 90,3 persen. Selain itu, pupuk ZA yang sebelumnya belum mendapat alokasi, tahun ini mulai dialokasikan sebanyak 1.483.000 kilogram.
Kabid Prasarana dan Sarana Pertanian Dispertabun Kabupaten Kediri, Arahayu Setyo Adi, memastikan distribusi pupuk sudah berjalan sejak awal tahun melalui jaringan kios resmi di seluruh wilayah.
“Berdasarkan hasil rapat dengan distributor, pendistribusian sudah dilakukan secara bertahap sejak awal 2026. Petani bisa mengakses pupuk melalui kios resmi di wilayah masing-masing,” ujar Arahayu, Rabu (4/2).
Saat ini, Dispertabun masih memfinalisasi data serapan pupuk bulan Januari. Meski demikian, pihaknya memastikan transparansi dan kesiapan menghadapi kemungkinan kekurangan stok di tengah tahun.
“Jika dalam perjalanan tahun ini terjadi kekurangan, kami akan segera mengajukan tambahan alokasi ke tingkat provinsi maupun pusat,” tegasnya.
Di Kabupaten Kediri, tercatat ada 1.352 kelompok tani (poktan) yang telah mengusulkan kebutuhan pupuk bersubsidi sesuai luasan lahan. Untuk memastikan distribusi tepat sasaran, Dispertabun terus memperkuat sinergi dengan berbagai pihak, mulai dari Pupuk Indonesia selaku produsen, pelaku usaha distribusi, penerima pupuk di titik serah, hingga penyuluh pertanian di lapangan.
Sinergi tersebut menjadi kunci menjaga ketersediaan pupuk, agar petani dapat fokus meningkatkan produktivitas dan mendukung ketahanan pangan nasional.(atc/adr)





























