KUBUS.ID – Mendekati penghujung Ramadan 1447 H, gema takbir mulai dipersiapkan. Namun, ada sebuah pergeseran budaya yang mengkhawatirkan. Takbir yang seharusnya menjadi ungkapan pengagungan terhadap kebesaran Tuhan, kini sering kali tenggelam oleh suara ledakan petasan, raungan knalpot brong, dan musik disko yang dentumannya menggetarkan kaca rumah warga.
Selamat datang di fenomena “Hura-hura Berkedok Takbir”. Sebuah malam di mana kita merayakan kemenangan dengan cara-cara yang justru menunjukkan kekalahan kita terhadap hawa nafsu.
Takbir yang Tenggelam dalam Kebisingan
Pernahkah Anda memperhatikan rombongan truk atau konvoi motor yang berkeliling kota di malam takbiran? Sering kali, suara takbir hanya menjadi “latar belakang” yang kalah keras dibanding klakson dan musik remix.
Esensi takbir adalah pengakuan bahwa “Allah Maha Besar” dan dunia ini kecil. Namun, perilaku di jalanan justru menunjukkan sebaliknya: ego kita yang merasa besar. Kita merasa berhak menutup jalan, kita merasa berhak memekakkan telinga orang lain, dan kita merasa berhak mengganggu ketertiban umum atas nama perayaan agama. Ini bukan syiar, ini adalah gangguan ketertiban yang dipaksakan atas nama religi.
Petasan: Membakar Uang, Mengundang Bahaya
Ironi terbesar dari malam takbiran adalah “ritual” menyulut petasan dan kembang api. Di saat kita baru saja diajarkan untuk berempati pada yang lapar selama sebulan, kita justru menutupnya dengan membakar uang (secara harfiah) ke langit.
Berapa banyak dana yang menguap menjadi asap dalam semalam? Padahal, uang itu bisa menjadi beasiswa bagi anak yatim atau modal usaha bagi mereka yang kehilangan pekerjaan. Belum lagi risiko kebakaran dan luka bakar yang selalu menghiasi berita esok paginya. Kita seolah ingin “membangunkan” Tuhan dengan ledakan, padahal Dia lebih mendengar bisikan hamba-Nya yang sedang bersimpuh di atas sajadah.
Kritik Pedas: Jika cara Anda merayakan kebesaran Tuhan adalah dengan membuat bayi kaget, orang sakit tersiksa, dan lingkungan penuh sampah mesiu, maka Anda tidak sedang bertakbir; Anda sedang melakukan polusi mental.
Kehilangan Kesyahduan Garis Finish
Malam takbiran seharusnya menjadi momen refleksi yang paling dalam. Momen di mana kita menangis karena akan berpisah dengan bulan penuh berkah. Namun, suasana itu hilang digantikan oleh euforia dangkal di jalanan.
Kita lebih sibuk dengan “konvoi” daripada “kontemplasi”. Kita lebih peduli pada update status di tengah keramaian jalan daripada duduk di pojok masjid untuk meresapi setiap kalimat takbir yang keluar dari lisan kita. Kita merayakan kemenangan sebelum benar-benar memastikan apakah kita sudah menang di mata Sang Pencipta.
Akhir Kata: Takbirlah dengan Hati, Bukan dengan Ledakan
Ramadan 1447 H ini, mari kita kembalikan kemuliaan malam takbiran. Takbir yang paling keras adalah takbir yang bergema di dalam hati dan tercermin dalam ketenangan perilaku.
Jangan jadikan malam kemenanganmu sebagai malam penderitaan bagi orang lain. Jika ingin bertakbir, masjid-masjid telah menyediakan ruang yang luas dan syahdu. Jika ingin berbagi kegembiraan, carilah cara yang tidak merusak dan tidak membahayakan.
Kemenangan sejati tidak butuh letusan petasan untuk diakui dunia. Kemenangan sejati adalah saat namamu dipanggil oleh penghuni langit karena keberhasilanmu menundukkan ego selama sebulan penuh, bukan karena namamu tercatat di buku laporan kepolisian karena kerusuhan di jalanan.






























