KUBUS.ID – Hari kedua puluh lima Ramadan 1447 H. Jika Anda berjalan di pemukiman, Anda akan melihat pemandangan serupa: kaleng cat berserakan, tangga bersandar di dinding, dan tumpukan gorden lama yang sedang dicuci. Semua orang mendadak menjadi ahli dekorasi rumah.
Ada sebuah obsesi masal untuk memastikan rumah tampak “sempurna” saat tamu datang di hari Lebaran. Namun, mari kita tarik napas sejenak dan bertanya: Apakah kita sedang menyiapkan tempat untuk bersilaturahmi, atau kita sedang menyiapkan panggung untuk dipuji?
Dekorasi sebagai Validasi
Kita sering merasa bahwa martabat keluarga dipertaruhkan lewat warna cat ruang tamu. Kita merasa malu jika sofa lama kita terlihat usang, atau jika dinding rumah masih menyisakan noda kusam. Akibatnya, energi yang seharusnya dialokasikan untuk mengejar malam-malam terakhir yang penuh berkah, justru terkuras untuk mengecat tembok hingga dini hari.
Kritik tajamnya adalah: Kita lebih takut rumah kita terlihat kotor di mata manusia, daripada hati kita terlihat kotor di mata Tuhan. Kita menghabiskan jutaan rupiah untuk wallpaper dinding, tapi kita pelit meluangkan waktu untuk beristighfar menghapus “noda” di dalam jiwa. Kita ingin rumah kita terlihat baru, tapi kita membiarkan karakter dan perilaku kita tetap memakai “setelan lama” yang penuh dengki dan sombong.
Kelelahan yang Salah Tempat
Banyak orang datang ke hari raya dalam keadaan kelelahan secara fisik. Bukan karena habis berdiri lama dalam salat malam (Tahajud), melainkan karena habis memindahkan furnitur, memasang lampu hias, atau membersihkan langit-langit rumah.
Di sepuluh malam terakhir, di mana Nabi SAW justru “mengencangkan ikat pinggang” untuk beribadah, kita justru “mengencangkan ikat pinggang” untuk mengelap kaca. Fokus kita terdistraksi secara visual. Kita menciptakan estetika luar yang luar biasa, namun suasana batin di dalam rumah tersebut sering kali tegang karena stres persiapan dan biaya renovasi yang membengkak.
Kritik Pedas: Jika Anda lebih hafal katalog warna cat terbaru daripada urutan zikir petang, maka sebenarnya fokus Ramadanmu sudah bergeser dari “Rumah Akhirat” menjadi “Rumah Real Estate”.
Jebakan “Tampak Luar”
Budaya kita sangat mementingkan aspek “apa kata orang”. Renovasi rumah menjelang Lebaran sering kali bukan karena kebutuhan fungsional, melainkan karena persaingan terselubung antar tetangga atau kerabat yang akan datang berkunjung.
Kita terjebak dalam perlombaan pamer kemapanan. Kita ingin menunjukkan bahwa tahun ini ekonomi kita membaik lewat perubahan warna fasad rumah. Padahal, tamu-tamu kita datang untuk mencari kehangatan pelukan dan maaf yang tulus, bukan untuk mengaudit merk ubin lantai kita.
Akhir Kata: Bersihkan yang Di Dalam
Ramadan 1447 H ini, tentu tidak ada salahnya merapikan rumah. Kebersihan adalah bagian dari iman. Namun, jangan biarkan urusan domestik ini membajak waktu-waktu krusialmu di penghujung bulan suci.
Rumah yang paling indah di hari Lebaran bukanlah rumah yang catnya paling mengkilap atau gordennya paling mahal. Rumah terindah adalah rumah yang di dalamnya terdapat penghuni dengan hati yang jernih, tutur kata yang lembut, dan jiwa yang telah “dicat ulang” dengan ketakwaan.
Sebelum Anda menutup kaleng cat itu, pastikan Anda sudah menutup lubang-lubang dosa di hati. Karena tamu yang paling penting, yaitu rida Allah, tidak melihat indahnya dekorasi ruang tamumu, melainkan indahnya ketulusan di dalam dadamu.





























