KUBUS.ID – Saat Ramadan tiba, ekspektasi sosial meningkat. Kita diharapkan lebih sabar, lebih rajin ibadah, lebih dermawan, lebih religius. Secara ideal, itu baik. Namun dalam praktiknya, tekanan ini bisa terasa berat.
Tidak semua orang berada dalam kondisi mental atau situasi hidup yang ideal. Ada yang sedang menghadapi masalah keluarga, tekanan pekerjaan, atau pergulatan pribadi. Ketika melihat orang lain tampak begitu “bercahaya” di media sosial, muncul rasa tertinggal.
Tekanan sosial ini biasanya terlihat dalam bentuk:
- Membandingkan ibadah dengan orang lain.
- Merasa malu jika tidak ikut kegiatan keagamaan tertentu.
- Memaksakan diri terlihat religius di depan publik.
- Takut dinilai kurang baik jika tidak memenuhi standar sosial.
Padahal, perjalanan spiritual setiap orang berbeda. Ramadan bukan kompetisi kolektif, melainkan perjalanan personal.
Menghadapi tekanan sosial bisa dilakukan dengan:
- Mengingat bahwa media sosial hanya menampilkan potongan terbaik.
- Menentukan standar pribadi, bukan mengikuti standar publik.
- Fokus pada konsistensi kecil daripada perubahan drastis.
- Menghargai proses, bukan hanya hasil.
Menjadi “lebih baik” tidak harus spektakuler. Kadang, menjadi sedikit lebih sabar hari ini dibanding kemarin sudah merupakan kemajuan besar.






























