KUBUS.ID – Di era hustle culture, sibuk sering dianggap sebagai simbol kesuksesan. Kalender penuh, notifikasi tak berhenti, dan daftar tugas yang panjang seolah menjadi tanda bahwa seseorang produktif. Namun, di balik itu semua, ada fenomena yang mulai banyak dibicarakan: toxic productivity.
Toxic productivity adalah kondisi ketika seseorang merasa harus terus-menerus produktif tanpa memberi ruang untuk istirahat. Jika tidak melakukan sesuatu yang “menghasilkan”, muncul rasa bersalah. Padahal, pola seperti ini justru bisa merusak kesehatan fisik dan mental.
Apa Itu Toxic Productivity?
Berbeda dengan produktivitas sehat yang terarah dan seimbang, toxic productivity membuat seseorang:
- Takut terlihat tidak sibuk
- Sulit menikmati waktu istirahat
- Merasa bersalah saat santai
- Terus bekerja meski tubuh sudah lelah
Produktivitas yang awalnya positif berubah menjadi tekanan internal yang melelahkan.
Tanda-Tanda Anda Mengalami Toxic Productivity
- Tidak Pernah Benar-Benar Istirahat
Bahkan saat libur, pikiran tetap memikirkan pekerjaan. - Mengukur Harga Diri dari Hasil Kerja
Merasa tidak berharga jika tidak mencapai target tertentu. - Mengabaikan Kesehatan
Kurang tidur, melewatkan makan, jarang olahraga. - Sulit Berkata “Tidak”
Selalu menerima tugas tambahan meski sudah kewalahan. - Merasa Cemas Saat Tidak Sibuk
Waktu kosong justru membuat gelisah.
Jika beberapa tanda ini terasa familiar, bisa jadi Anda sedang terjebak dalam toxic productivity.
Dampak Toxic Productivity bagi Kesehatan
Terlalu sibuk tanpa jeda dapat menyebabkan:
- Burnout (kelelahan fisik dan mental)
- Gangguan tidur
- Stres kronis
- Penurunan sistem imun
- Hubungan sosial terganggu
Ironisnya, semakin dipaksakan, produktivitas justru menurun karena tubuh dan pikiran tidak diberi waktu untuk pulih.
Cara Keluar dari Toxic Productivity
1. Ubah Pola Pikir tentang Istirahat
Istirahat bukan kemalasan. Istirahat adalah bagian dari produktivitas jangka panjang.
2. Tetapkan Batas Kerja yang Jelas
Tentukan jam kerja dan patuhi batas tersebut. Hindari mengecek email atau pesan kerja di luar jam yang sudah ditentukan.
3. Prioritaskan Kualitas, Bukan Kuantitas
Fokus pada hasil yang bermakna, bukan sekadar banyaknya tugas yang diselesaikan.
4. Jadwalkan Waktu untuk Diri Sendiri
Masukkan waktu istirahat, olahraga, atau hobi ke dalam agenda seperti halnya jadwal meeting.
5. Belajar Mengatakan “Tidak”
Menolak tugas tambahan bukan berarti tidak kompeten. Itu bentuk menjaga kapasitas diri.
Produktif Itu Seimbang
Produktivitas yang sehat adalah ketika tidak bisa bekerja dengan optimal tanpa mengorbankan kesehatan. Terlalu sibuk bukan selalu berarti sukses. Justru, kemampuan mengatur ritme kerja menunjukkan kedewasaan dan manajemen diri yang baik.
Ingat, tubuh bukan mesin. Jika dipaksa terus menyala tanpa jeda, ia akan berhenti dengan caranya sendiri.






























