Beranda Religi 10 Hari Pertama Ramadan: Fase Rahmat, Momentum “Gas Pol” Perbaikan Diri

10 Hari Pertama Ramadan: Fase Rahmat, Momentum “Gas Pol” Perbaikan Diri

15
10 Hari Pertama Ramadan: Fase Rahmat, Momentum “Gas Pol” Perbaikan Diri (Foto: Pexels/David McEachan)

KUBUS.ID – Ramadan selalu datang dengan nuansa berbeda. Masjid penuh, tilawah menggema, dan pasar takjil dadakan berderet di tepi jalan. Namun, di balik gegap gempita itu, ada satu fase yang sering disebut para ulama sebagai “starter pack” keberkahan: 10 hari pertama Ramadan yang disebut sebagai fase rahmat.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Rasulullah ﷺ bersabda, “Awal Ramadan adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka.” Meski sebagian ulama menilai sanad hadis ini memiliki kelemahan, maknanya sejalan dengan banyak dalil sahih tentang luasnya rahmat Allah dan besarnya peluang ampunan di bulan suci.

Rahmat yang Dibuka Lebar

Rasulullah ﷺ menegaskan dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim:
“Apabila Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”

Pesan tegasnya: atmosfer spiritual sedang kondusif. Godaan dipersempit, peluang pahala diperlebar. Di fase awal inilah Allah memberi “karpet merah” bagi hamba-Nya untuk memulai perubahan.

Al-Qur’an pun menegaskan misi puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183: agar manusia mencapai derajat takwa. Takwa bukan hasil instan. Ia dibangun sejak hari pertama, bahkan sejak malam pertama Ramadan.

Start Kuat, Finish Nikmat

Banyak orang semangat di hari pertama, tapi loyo di hari ketujuh. Padahal, 10 hari pertama adalah fondasi. Jika fondasi kokoh, fase-fase berikutnya lebih ringan dijalani.

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ menjelaskan, amal yang kontinu meski sedikit lebih dicintai Allah daripada yang besar tapi terputus. Artinya, konsistensi ibadah sejak awal Ramadan menentukan kualitas sebulan penuh.

Prinsipnya sederhana: siapa yang serius di awal, biasanya kuat hingga akhir.

Momentum Melipatgandakan Amal

Rasulullah ﷺ dikenal paling dermawan, dan lebih dermawan lagi saat Ramadan (HR. Bukhari). Ini menunjukkan bahwa 10 hari pertama bukan sekadar adaptasi menahan lapar, melainkan percepatan amal: sedekah, tilawah, qiyamullail, dan memperbaiki relasi sosial.

Dalam hadis qudsi riwayat Bukhari disebutkan:
“Setiap amal anak Adam untuknya, kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Frasa ini memberi bobot eksklusif pada puasa. Balasannya “tanpa batas” karena langsung dalam otoritas Allah. Maka, mengawali Ramadan dengan kualitas terbaik berarti membuka peluang balasan yang tak terukur.

Evaluasi Diri Sejak Dini

Fase rahmat juga menjadi waktu evaluasi. Apakah puasa hanya menahan lapar? Rasulullah ﷺ mengingatkan:
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Artinya, 10 hari pertama adalah momen kalibrasi. Jika masih mudah marah, lalai shalat berjamaah, atau pelit berbagi, alarm spiritual seharusnya berbunyi lebih awal, bukan menunggu malam ke-27.

Rahmat Itu Nyata, Bukan Retorika

Rahmat Allah bukan sekadar konsep abstrak. Ia hadir dalam kemudahan bangun sahur, kelancaran tilawah, ketenangan hati saat sujud, hingga keinginan berbagi yang tumbuh tanpa dipaksa.

Sepuluh hari pertama Ramadan adalah fase “pemanasan” yang menentukan suhu iman sebulan penuh. Jika di fase ini hati sudah hangat oleh rahmat, maka 20 hari berikutnya tinggal menjaga bara tetap menyala.

Ramadan bukan lomba siapa paling lelah, melainkan siapa paling bertumbuh. Dan pertumbuhan terbaik selalu dimulai dari langkah pertama yang sungguh-sungguh.(adr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini