
JAKARTA, (KUBUS.ID) – Banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat tidak akan ditetapkan sebagai bencana nasional. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan, status bencana nasional di Indonesia memiliki kriteria yang sangat ketat dan terbatas.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyatakan, sepanjang sejarah Indonesia, hanya dua peristiwa yang pernah menyandang status bencana nasional.
“Yang disebut bencana nasional itu hanya Covid-19 dan Tsunami Aceh 2004. Itu saja. Setelah itu banyak bencana besar gempa Palu, NTB, Cianjur Tetap tidak ditetapkan sebagai bencana nasional,” tegas Suharyanto dikutip dari ANTARANEWS pada Minggu, (30/11).
Menurutnya, penetapan status bencana nasional bukan semata-mata didorong oleh besarnya pemberitaan atau viralnya kondisi di media sosial, melainkan oleh skala korban, tingkat kerusakan, serta kesulitan akses secara nasional.
Ia membandingkan kondisi terkini di Sumatera dengan bencana-bencana besar sebelumnya. Meski sempat terlihat mencekam di ruang digital, situasi di lapangan kini dinilai mulai terkendali.
“Memang kemarin di media sosial kelihatannya berat, mencekam. Tapi sekarang rekan-rekan media sudah bisa masuk lokasi, cuaca juga normal. Artinya, ini masih bencana daerah,” ujarnya.
BNPB pun menegaskan bahwa status darurat saat ini masih berada pada level bencana daerah tingkat provinsi, bukan nasional. Di Sumatera Utara, kata Suharyanto, wilayah yang masih menjadi perhatian serius tinggal Kabupaten Tapanuli Tengah, sementara daerah lain mulai berangsur pulih.
Meski tidak menyandang status bencana nasional, BNPB menegaskan pemerintah pusat tetap turun tangan penuh. Dukungan personel, logistik, hingga alat utama telah dikerahkan bersama TNI, Polri, dan kementerian terkait.
Fokus utama saat ini adalah pembukaan akses wilayah yang terputus akibat longsor, terutama jalur nasional Sibolga–Padang Sidempuan dan Sibolga–Tarutung. Sejumlah jembatan vital seperti Jembatan Pandan dan jembatan Sibolga–Manduamas dilaporkan putus dan masih dalam proses penanganan.
Di Mandailing Natal, setidaknya tujuh wilayah masih terisolir, dengan beberapa desa hanya dapat dijangkau melalui helikopter atau setelah alat berat berhasil menyingkirkan material longsor.
Untuk memastikan distribusi bantuan tetap berjalan, BNPB menyiagakan lima helikopter di Bandara Silangit. Helikopter BNPB, TNI AD Bell 412EPI, MI-17V5, hingga heli swasta dikerahkan mengangkut logistik ke daerah terdampak.
“Sibolga sebenarnya sudah bisa kita jangkau lewat udara untuk distribusi logistik, meskipun jalur darat belum sepenuhnya tembus,” tutup Suharyanto. (far)
































