Beranda Gaya Hidup Standar Cantik di Media Sosial, Realistis atau Tekanan?

Standar Cantik di Media Sosial, Realistis atau Tekanan?

916

KUBUS.ID – Media sosial telah menjadi ruang baru dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap kecantikan. Setiap hari, linimasa dipenuhi wajah mulus tanpa pori, tubuh proporsional, serta gaya hidup yang tampak sempurna. Tanpa disadari, paparan visual yang berulang ini perlahan menciptakan standar cantik versi media sosial—standar yang sering kali terasa sulit, bahkan mustahil, untuk dicapai.

Masalahnya, apa yang terlihat di layar tidak selalu mencerminkan kenyataan. Banyak konten kecantikan telah melalui proses filter, pencahayaan tertentu, sudut pengambilan gambar, hingga sentuhan editing. Namun, standar tersebut tetap dikonsumsi sebagai tolok ukur kecantikan yang “ideal”. Akibatnya, tidak sedikit orang mulai membandingkan diri sendiri dengan gambaran yang sebenarnya tidak realistis.

Tekanan ini tidak hanya dirasakan oleh remaja, tetapi juga orang dewasa. Rasa kurang percaya diri muncul ketika kulit tidak secerah di media sosial, bentuk tubuh tidak seideal figur publik, atau penampilan sehari-hari terasa jauh dari kata sempurna. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu stres, kecemasan, hingga ketidakpuasan terhadap diri sendiri.

Standar cantik di media sosial juga sering kali bersifat seragam. Kulit cerah, hidung mancung, tubuh langsing, dan riasan tertentu seolah menjadi definisi umum kecantikan. Keberagaman bentuk wajah, warna kulit, dan karakter fisik kerap tersisih. Padahal, kecantikan sejatinya hadir dalam banyak bentuk dan tidak bisa disederhanakan menjadi satu pola yang sama.

Namun, media sosial tidak selalu membawa dampak negatif. Di sisi lain, platform digital juga membuka ruang bagi kampanye body positivity, self-love, dan penerimaan diri. Semakin banyak kreator yang berani tampil apa adanya, membagikan proses, bukan hanya hasil akhir. Konten semacam ini menjadi pengingat bahwa kecantikan bukan soal kesempurnaan, melainkan keunikan.

Pertanyaan pentingnya bukan lagi apakah standar cantik di media sosial itu realistis, melainkan sejauh mana kita membiarkannya memengaruhi cara kita memandang diri sendiri. Menyaring konten, membatasi perbandingan, dan lebih fokus pada kesehatan fisik serta mental adalah langkah kecil yang bisa dilakukan untuk keluar dari tekanan tersebut.

Pada akhirnya, cantik tidak seharusnya menjadi beban. Kecantikan bukan tentang memenuhi ekspektasi media sosial, melainkan tentang merasa nyaman dan percaya diri dengan diri sendiri. Ketika standar eksternal mulai terasa menekan, mungkin sudah saatnya kita kembali mendefinisikan cantik dengan versi yang lebih manusiawi dan realistis.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini