KUBUS.ID – Ada suasana yang berbeda saat menjelang magrib di bulan Ramadan. Rumah terasa lebih tenang. Semua menunggu dalam harap. Lalu azan berkumandang. Dalam satu suara, semua perbedaan melebur.
1. Detik-Detik yang Dinanti
Menunggu magrib mengajarkan kesabaran.
• Tidak bisa dipercepat
• Tidak bisa ditunda
• Hanya bisa dinanti
Proses menunggu ini membentuk karakter yang lebih sabar dan terkendali.
2. Doa yang Diucapkan Bersama
Saat doa berbuka diucapkan serentak, ada rasa spiritual yang menyatukan hati.
Momen ini:
• Menguatkan rasa syukur
• Menghadirkan ketenangan
• Mengingatkan pada tujuan puasa
3. Meleburkan Ketegangan
Setelah seharian menahan diri, magrib menjadi momen pelepas.
Sering kali:
• Konflik kecil mencair
• Suasana menjadi lebih hangat
• Percakapan terasa lebih ringan
Ramadan menghadirkan ruang rekonsiliasi yang alami.
4. Menguatkan Identitas Keluarga
Magrib yang dijalani bersama setiap hari menciptakan kenangan kolektif.
Anak-anak akan mengingat:
• Suara azan
• Wajah orang tua saat berdoa
• Meja makan yang penuh kebersamaan
Kenangan ini akan tinggal lama dalam ingatan.
Waktu yang Tidak Tergantikan
Magrib di bulan Ramadan bukan sekadar pergantian waktu. Ia adalah simbol kebersamaan, rasa syukur, dan ikatan yang diperkuat setiap hari.

































