Beranda Kediri Raya AI Mulai Jawab Soal Agama, Pemerintah Ingatkan: Jangan Sampai Menyesatkan

AI Mulai Jawab Soal Agama, Pemerintah Ingatkan: Jangan Sampai Menyesatkan

2585
Wamenkomdigi Nezar Patria menyampaikan keynote speech dalam acara Grand Launching Platform AI Aiman & Aisha (Foto: Komdigi)

JAKARTA, (KUBUS.ID) – Pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) kini merambah ranah keagamaan. Teknologi tersebut mulai dipakai untuk menjawab berbagai pertanyaan masyarakat tentang ajaran agama.

Namun, penggunaan AI di bidang sensitif ini tidak bisa sembarangan. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan bahwa sistem AI harus dilatih menggunakan data yang akurat dan terpercaya.

Tanpa proses pelatihan data yang tepat, AI berpotensi menghasilkan jawaban yang bias, bahkan menyesatkan—terutama ketika menyangkut persoalan ajaran agama.

“Untuk Aiman dan Aisha ini, kalau data-datanya tidak di-training dengan baik, dapat memberikan hasil yang melenceng dari kaidah agama,” ujar Nezar saat peluncuran platform kecerdasan buatan keislaman Aiman dan Aisha di Jakarta Pusat, dikutip dari laman resmi komdigi.go.id, Senin (9/3).

Nezar mengapresiasi langkah pengembang yang sudah menyiapkan mekanisme mitigasi risiko. Sistem AI tersebut dirancang tidak langsung menjawab pertanyaan yang dinilai sensitif atau kritis.

“Ini bagus. Jadi sudah ada semacam penapis risiko. Kalau pertanyaannya sensitif atau agak kritis, sistem akan menyarankan pengguna untuk bertanya langsung kepada ustaz atau ahli,” jelasnya.

Ia berharap platform Aiman dan Aisha bisa menjadi terobosan dalam pemanfaatan AI di bidang keagamaan. Dengan pengembangan yang lebih intensif, kemampuan sistem tersebut diharapkan terus meningkat.

“Semoga dengan pengembangan yang lebih intens, Aiman dan Aisha bisa menjadi lebih cerdas dan menjawab semakin banyak pertanyaan masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Lazismu PP Muhammadiyah Ahmad Imam Mujaddid Rais menilai kehadiran platform ini relevan dengan kebiasaan generasi muda saat ini.

Menurut dia, generasi Z dan milenial kerap mencari jawaban atas persoalan agama melalui mesin pencari di internet. Masalahnya, tidak semua sumber yang beredar di dunia maya dapat dipastikan kebenaran dan akurasinya.

“Kehadiran Aiman dan Aisha memperkaya khazanah Islam di masyarakat untuk melahirkan pemahaman agama yang harmonis,” ujarnya.

Ia juga mendorong agar platform tersebut terus memperkuat basis datanya. Berbagai rujukan dari kitab-kitab klasik hingga fatwa para ulama perlu dilengkapi agar informasi yang disajikan semakin komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan.(adr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini