
Jakarta, (KUBUS.ID) — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sepanjang tahun mencatatkan defisit sebesar Rp 695,1 triliun. Realisasi sementara yang belum diaudit tersebut setara dengan 2,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Defisitnya membesar ke Rp 695,1 triliun, itu lebih tinggi dibandingkan APBN yang sebesar Rp 616,2 triliun, tapi kita tetap menjaga, pastikan bahwa defisitnya tidak di atas 3%,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat dikutip dari Kanal YouTube CNBC Indonesia pada Kamis, (08/01).
Ia menjelaskan, defisit APBN 2025 meningkat dibandingkan target awal yang dipatok sebesar 2,53% dari PDB. Kenaikan tersebut dilakukan dengan pertimbangan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tekanan global yang masih tinggi.
“Defisitnya memang naik ke 2,92% dari rencana awal 2,53%. Ini dengan misi untuk menjaga ekonomi tetap bisa berekspansi di tengah tekanan global yang tinggi,” tambahnya.
Defisit APBN mencerminkan kondisi pendapatan negara yang lebih kecil dibandingkan belanja negara. Sepanjang 2025, pendapatan negara tercatat mencapai Rp 2.756,3 triliun atau 91,7% dari target APBN. Sementara itu, belanja negara terealisasi sebesar Rp 3.451,4 triliun atau 95,3% dari pagu anggaran.
Pendapatan negara tersebut berasal dari penerimaan pajak sebesar Rp 1.917,6 triliun, kepabeanan dan cukai Rp 300,3 triliun, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp 534,1 triliun, serta penerimaan hibah sebesar Rp 4,3 triliun.
Adapun belanja negara sebesar Rp 3.451,4 triliun terdiri atas belanja pemerintah pusat Rp 2.602,3 triliun dan transfer ke daerah sebesar Rp 849 triliun.
Purbaya menegaskan pemerintah sengaja tidak memangkas belanja negara demi menahan laju perlambatan ekonomi. Menurutnya, di tengah kondisi ekonomi yang melemah, pemerintah justru perlu memberikan stimulus.
“Kenapa nggak dipotong belanjanya supaya defisit tetap kecil? Kita tahu ketika ekonomi kita sedang mengalami down, turun ke bawah, kita harus memberikan stimulus ke perekonomian. Ini wujud dari komitmen pemerintah untuk ekonomi tetap tumbuh dan berkesinambungan, tanpa membahayakan APBN,” tegasnya.
Ia menyebut kebijakan tersebut merupakan bagian dari strategi fiskal yang bersifat countercyclical. Meski defisit dapat ditekan dengan pengurangan belanja, langkah itu dinilai berisiko terhadap stabilitas ekonomi.
“Saya bisa potong anggarannya, tapi ekonominya morat-marit. Jadi ini adalah kepiawaian dari teman-teman di Kementerian Keuangan untuk memastikan ekonomi bisa tumbuh terus tanpa mengorbankan sisi kehati-hatian fiskal. Walaupun defisit, kita pastikan di bawah 3%. Ini adalah standar yang paling ketat,” pungkas Purbaya. (far)
































