KUBUS.ID – Di tengah masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi sopan santun dan tata krama, ada satu sikap yang nyaris selalu dianggap positif: sungkan. Sikap ini sering dimaknai sebagai bentuk rasa hormat, tenggang rasa, dan keinginan untuk tidak merepotkan orang lain. Namun tanpa disadari, budaya sungkan justru kerap membuat seseorang menyulitkan dirinya sendiri.
Sungkan yang berlebihan bisa menjadi penghalang untuk bersikap jujur, tegas, dan berani memperjuangkan kebutuhan pribadi.
Ketika Sungkan Berubah Menjadi Beban
Awalnya, sungkan muncul dari niat baik. Tidak enak menolak, tidak tega mengoreksi, atau merasa tak pantas menyampaikan pendapat. Namun dalam praktiknya, banyak orang akhirnya:
- Mengiyakan permintaan meski sedang lelah atau tidak mampu
- Diam saat diperlakukan tidak adil
- Menahan keluhan hingga stres sendiri
- Takut bertanya karena khawatir dianggap bodoh atau merepotkan
Dalam jangka panjang, sikap ini bukan hanya melelahkan secara mental, tapi juga bisa memengaruhi kesehatan emosional dan kualitas hubungan sosial.
Sungkan di Dunia Kerja dan Lingkungan Sosial
Di lingkungan kerja, budaya sungkan sering membuat karyawan enggan menyampaikan ide, menolak tugas di luar tanggung jawab, atau memberi masukan pada atasan. Akibatnya, potensi diri tidak berkembang maksimal dan beban kerja justru menumpuk.
Sementara dalam kehidupan sosial, sungkan bisa membuat seseorang sulit berkata “tidak”, meski itu merugikan diri sendiri—baik dari segi waktu, tenaga, maupun perasaan.
Ironisnya, orang yang terlalu sungkan sering dianggap “tidak punya pendirian”, bukan lagi sopan.
Antara Sopan dan Mengorbankan Diri
Penting untuk membedakan antara sopan santun dan mengorbankan diri sendiri. Bersikap santun tidak berarti harus selalu mengalah. Menghargai orang lain tidak sama dengan mengabaikan kebutuhan pribadi.
Belajar menyampaikan pendapat dengan cara yang baik, tegas namun tetap beretika, justru menunjukkan kedewasaan emosional.
Mengurangi Sungkan Tanpa Kehilangan Etika
Mengurangi sikap sungkan bukan berarti menjadi kasar atau egois. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
- Latih diri mengatakan “tidak” dengan sopan
- Ungkapkan pendapat secara jujur dan tenang
- Sadari bahwa kebutuhan diri sendiri juga penting
- Ingat bahwa komunikasi terbuka sering mencegah kesalahpahaman
Dengan begitu, hubungan sosial tetap terjaga tanpa harus mengorbankan kesehatan mental.
Budaya sungkan memang bagian dari nilai luhur masyarakat Indonesia. Namun ketika dilakukan berlebihan, sikap ini bisa berubah menjadi jebakan yang menyulitkan diri sendiri. Menjaga keseimbangan antara sopan santun dan keberanian bersuara adalah kunci agar kita tetap menghargai orang lain—tanpa kehilangan diri sendiri.






























