KUBUS.ID – Ramadan sering dimulai dengan semangat yang meluap. Target khatam Al-Qur’an, tarawih penuh, sedekah rutin, bangun tahajud setiap malam. Niatnya baik. Namun di pertengahan bulan, sebagian orang mulai merasa lelah — bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual.
Burnout spiritual terjadi ketika ibadah berubah menjadi tekanan. Ketika target lebih dominan daripada makna. Ketika kita merasa bersalah jika tidak mencapai standar yang kita buat sendiri.
Beberapa tanda burnout spiritual:
- Ibadah terasa seperti beban, bukan kebutuhan
- Mudah merasa gagal atau kurang
- Kehilangan rasa nikmat dalam berdoa
- Membandingkan diri secara berlebihan dengan orang lain
Ramadan bukan lomba kuantitas. Ia adalah perjalanan kualitas. Lebih baik membaca sedikit dengan penuh perenungan daripada banyak tanpa kesadaran. Lebih baik satu doa yang tulus daripada banyak kalimat tanpa hati.
Menjaga ritme lebih penting daripada memaksakan intensitas. Spiritualitas yang sehat tumbuh perlahan, bukan dipaksakan sekaligus. Ramadan seharusnya menguatkan jiwa, bukan mengurasnya.






























