Beranda Opini Dapur vs Mihrab: Ironi “Surga” yang Tercecer di Antara Cucian Piring

Dapur vs Mihrab: Ironi “Surga” yang Tercecer di Antara Cucian Piring

13

Setiap kali azan Magrib berkumandang di hari keenam Ramadan 1447 H ini, kita semua bersuka cita. Namun, pernahkah kita menoleh ke arah dapur? Di sana, ada sosok perempuan—ibu, istri, atau saudara kita—yang wajahnya memerah karena uap kompor, tangannya berbau bawang, dan kakinya gemetar karena berdiri sejak pukul tiga sore.

Inilah kritik sosiologis kita hari ini: Dandanan Takwa yang Timpang. Saat kaum laki-laki bisa dengan tenang duduk di saf depan, meresapi setiap ayat imam yang merdu (mihrab), banyak perempuan yang justru “terpenjara” di dapur demi memastikan lidah seluruh anggota keluarga termanjakan.

Spiritual yang Tercuri oleh Menu “Wah”

Ada ekspektasi sosial yang tidak adil: Ramadan dianggap sukses jika menu buka puasa dan sahur bervariasi setiap hari. Sayangnya, beban ekspektasi ini hampir 100% jatuh ke pundak perempuan.

Akibatnya tragis. Waktu yang seharusnya digunakan untuk tadarus, perempuan menghabiskannya untuk mengupas bawang. Waktu yang seharusnya untuk istirahat agar bisa Tahajud, habis untuk mencuci tumpukan piring bekas buka puasa. Kita sering lupa bahwa perempuan juga punya ruhani yang ingin diberi makan, bukan hanya perut keluarga yang harus dikenyangkan.

Kritik Tajam: Kita menyebut Ramadan sebagai bulan ibadah, tapi bagi banyak perempuan, Ramadan justru berubah menjadi “bulan kerja paksa” domestik yang melelahkan.

Privilese Laki-laki dan Ketulian Empati

Pemandangan umum di banyak rumah: Sang ayah dan anak laki-laki asyik membaca Al-Quran atau tidur siang “menunggu bedug”, sementara sang ibu berjibaku dengan penggorengan di tengah rasa haus yang mencekik. Lebih parah lagi, saat makanan tersaji dan ada rasa yang kurang pas, kritik pedas justru meluncur dari mulut mereka yang “sedang berpuasa”.

Laki-laki sering kali merasa bahwa “ibadah” mereka di masjid sudah cukup, sehingga tidak perlu turun tangan di dapur. Padahal, Rasulullah SAW memberikan teladan untuk khidmah (melayani) keluarga dan membantu urusan domestik. Membiarkan istri kelelahan sendirian demi menu berbuka kita bukanlah bentuk ketakwaan, melainkan bentuk egoisme yang dibalut jubah agama.

Ibadah Masak vs Ibadah Mihrab

Memang benar ada narasi bahwa “menyiapkan makanan untuk orang puasa adalah pahala besar”. Namun, narasi ini sering kali dijadikan “senjata” oleh kaum laki-laki untuk melanggengkan ketidakadilan. Pahala masak tidak seharusnya menjadi pengganti hak perempuan untuk merasakan kekhusyukan ibadah personal.

Perempuan tidak boleh hanya menjadi “fasilitator” surga bagi orang lain, sementara ia sendiri kehilangan momen kedekatan dengan Tuhannya karena kelelahan fisik yang luar biasa. Jika dapur membuatnya terlalu lelah untuk salat Tarawih, maka ada yang salah dengan cara kita mengatur Ramadan di rumah kita.

Akhir Kata: Sederhanakan Meja, Luaskan Sajadah

Ramadan 1447 H ini harus menjadi momentum perlawanan terhadap budaya patriarki di meja makan. Wahai para suami dan anak laki-laki, masuklah ke dapur. Cuci piringmu sendiri, bantu menggoreng takjil, atau setidaknya, sederhanakan permintaan menumu.

Jangan biarkan ibumu atau istrimu kehilangan Lailatul Qadar hanya karena ia harus menyiapkan kue-kue kering atau rendang yang rumit. Ibadah yang sejati adalah saat kita saling meringankan beban, bukan menambah beban orang lain demi kepuasan perut kita.

Tuhan tidak hanya ada di mihrab masjid yang sejuk, tapi Ia juga melihat keadilan yang kita tegakkan di atas lantai dapur yang panas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini