KUBUS.ID – Masuk hari kedua belas Ramadan 1447 H, sebuah keajaiban sosiologis mulai terjadi di kota-kota besar. Jika di hari pertama kita membahas “Masjid Full House”, maka hari ini kita melihat fenomena sebaliknya: Masjid mulai “bernafas” lega. Garis saf yang tadinya meluber ke parkiran, kini mulai mengerut ke depan. Karpet-karpet tambahan mulai digulung.
Ke mana perginya ribuan orang itu? Jawabannya sederhana: Mereka sedang melakukan “I’tikaf” di mall-mall yang menawarkan diskon Early Bird Lebaran. Selamat datang di fase Diskon vs Dzikir.
Pergeseran Kiblat: Dari Mihrab ke Mall
Ramadan seringkali disebut bulan perjuangan melawan hawa nafsu, namun bagi industri ritel, Ramadan adalah musim panen syahwat konsumsi. Di pertengahan bulan seperti ini, fokus umat mulai bergeser. Magnet “Lailatul Qadar” kalah kuat dibanding magnet “Midnight Sale”.
Kita merasa rugi jika melewatkan diskon 70% untuk sepatu merek ternama, tapi kita tidak merasa rugi kehilangan keutamaan sepertiga malam terakhir. Kita sanggup berdiri berjam-jam memilih baju di pusat perbelanjaan tanpa mengeluh, namun kaki kita mendadak “kram” jika imam masjid membaca surat yang sedikit lebih panjang dari biasanya.
Kritik Tajam: Kita lebih takut kehabisan ukuran baju yang pas di badan, daripada kehabisan waktu untuk memperbaiki hati yang kian berkarat.
Logika “Zakat” yang Tertukar
Ironisnya, banyak dari kita yang rela mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk penampilan fisik di hari raya, namun mulai menghitung-hitung secara mikroskopis saat harus mengeluarkan zakat atau sedekah. Kita ingin tampil “suci” dengan baju baru berwarna putih, sementara hak orang miskin masih tersangkut di dalam dompet kita yang tebal.
Mall-mall didekorasi dengan nuansa Timur Tengah, lagu-lagu religi diputar di lorong belanja, menciptakan ilusi bahwa belanja adalah bagian dari ibadah. Kita tertipu oleh kemasan. Kita merasa sedang merayakan Ramadan, padahal kita hanya sedang merayakan kerakusan yang dibungkus dengan kartu kredit.
Ibadah yang “Kedaluwarsa” Sebelum Waktunya
Fenomena ini menunjukkan betapa rapuhnya motivasi ibadah kita. Jika iman kita hanya bertahan selama 10 hari pertama, maka sebenarnya kita tidak sedang mencintai Ramadan; kita hanya sedang “numpang lewat”.
Masjid yang sepi di pertengahan bulan adalah potret nyata bahwa bagi banyak orang, Ramadan hanyalah beban ritual yang ingin segera diakhiri agar bisa kembali ke “setelan pabrik”: menjadi manusia konsumtif. Kita sedang mematikan mesin spiritual tepat di saat kita seharusnya mengganti gigi ke kecepatan yang lebih tinggi menuju garis finish.
Akhir Kata: Takwa Tidak Bisa Dibeli dengan Diskon
Ramadan 1447 H ini, mari kita sadari satu hal: Tidak ada voucher potongan dosa yang bisa Anda dapatkan di kasir pusat perbelanjaan. Tidak ada promo “Beli 1 Gratis 1” untuk pahala yang dikerjakan dengan setengah hati.
Boleh saja bersiap untuk hari raya, namun jangan sampai persiapan fisik itu membunuh persiapan batin. Jangan biarkan saf salatmu kosong hanya karena kamu terlalu sibuk mengisi keranjang belanjaan. Karena baju baru akan usang dalam hitungan bulan, namun dzikir yang tulus akan menjadi pakaian jiwamu hingga ke keabadian.
Ingat, pemenang Ramadan bukanlah mereka yang paling keren pakaiannya saat Lebaran, tapi mereka yang paling istiqomah berada di saf masjid saat orang lain mulai hilang ditelan kerumunan mall.






























