Beranda Religi Fase Maghfirah: Amalan Utama 10 Hari Kedua Ramadan

Fase Maghfirah: Amalan Utama 10 Hari Kedua Ramadan

488
Ilustrasi Ramadan (Foto: Freepik)

KUBUS.ID – Ramadan bukan sekadar soal menahan lapar dan dahaga. Ia adalah perjalanan ruhani yang bertahap. Rasulullah SAW membaginya dalam tiga fase: sepuluh hari pertama penuh rahmat, sepuluh hari kedua penuh ampunan, dan sepuluh hari terakhir pembebasan dari api neraka.

Kini kita berada di fase kedua. Fase maghfirah.

Di sinilah ujian sebenarnya dimulai. Jika pada sepuluh hari pertama masjid penuh, saf rapat, dan semangat meluap, maka memasuki hari ke-11 hingga ke-20, ritme mulai melambat. Rasa lelah datang. Kesibukan dunia perlahan mengambil porsi perhatian. Padahal justru pada fase inilah pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya.

Dalam hadis yang diriwayatkan Al-Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda, “Awal Ramadan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.”

Artinya jelas: ini momentum mencuci dosa.

Allah Maha Pengampun. Bahkan, Dia mencintai hamba yang mengakui kesalahannya dan kembali dengan sungguh-sungguh. Maka, sepuluh hari kedua bukan waktu untuk menurun, tetapi saatnya menekan pedal lebih dalam.

Apa yang Perlu Dikuatkan?

Pertama, perbanyak istighfar dan taubat.
Bukan sekadar lafaz di bibir, tetapi taubat yang sungguh-sungguh. Taubatan nasuha. Mengakui salah, menyesal, dan bertekad tidak mengulanginya. Ucapkan istighfar di sela aktivitas, di perjalanan, bahkan dalam diam sebelum tidur.

Kedua, jaga kualitas salat.
Jangan biarkan saf masjid mulai longgar. Salat fardu berjamaah harus tetap menjadi prioritas. Tambahkan rawatib, duha, dan tahajud. Qiyamul lail adalah “ruang sunyi” tempat dosa-dosa luruh tanpa banyak kata.

Ketiga, konsisten dalam sedekah.
Ramadan adalah bulan kedermawanan. Sedekah bukan hanya membantu yang membutuhkan, tetapi juga menjadi penghapus dosa—seperti air memadamkan api. Jangan tunggu kaya untuk berbagi.

Keempat, hidupkan Al-Qur’an.
Ramadan adalah bulan turunnya Al-Qur’an. Jangan hanya mengejar khatam, tetapi juga kualitas bacaan dan pemahaman. Tambah target hafalan atau perdalam tadabbur. Biarkan Al-Qur’an benar-benar menjadi cahaya hati.

Kelima, perbanyak doa maghfirah.
Doa sederhana namun dalam maknanya:
“Allahummaghfirli dzunubi ya Rabbal ‘alamin.”
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, wahai Tuhan semesta alam.

Tantangan terbesar di fase ini adalah kejenuhan. Godaan belanja Lebaran, rencana mudik, urusan duniawi yang semuanya mulai menyita fokus. Tanpa sadar, energi ibadah akan menyusut.

Padahal Allah SWT telah mengingatkan dalam Surah Ali ‘Imran ayat 133 agar kita bersegera menuju ampunan dan surga-Nya yang luasnya seluas langit dan bumi.

Bersegera. Bukan menunda. Sepuluh hari kedua adalah jembatan menuju sepuluh hari terakhir yaitu fase Lailatul Qadar yang penuh kemuliaan. Tanpa hati yang dibersihkan di fase maghfirah, sulit berharap mencapai puncak kemuliaan di ujung Ramadan.

Jangan kendur di separuh jalan. Mari manfaatkan hari-hari ini untuk lebih banyak bersimpuh, lebih sering menunduk, dan lebih jujur mengakui khilaf. Siapa tahu, di antara jutaan doa yang terangkat ke langit, ada nama kita yang dicatat sebagai hamba yang diampuni. Semoga Ramadan kali ini bukan hanya berlalu, tetapi benar-benar mengubah kita. Amin.(adr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini