KUBUS.ID – Hari ketiga belas Ramadan 1447 H. Tenggorokan mulai terbiasa kering, perut sudah tidak terlalu gaduh meminta makan di siang hari. Kita merasa sudah menjadi hamba yang patuh karena berhasil menjauhkan diri dari sepiring nasi padang atau segelas es teh manis sejak fajar.
Namun, tunggu dulu. Mari kita periksa apa yang terjadi di sela-sela waktu menunggu berbuka. Di kantor, di grup WhatsApp, atau saat ibu-ibu berkumpul menunggu tukang sayur. Kita sangat takut setetes air masuk ke kerongkongan secara tidak sengaja, tapi kita merasa sangat nyaman “mengunyah” kehormatan orang lain lewat ghibah, fitnah, dan gosip.
Inilah fenomena Halal-Haram Selektif. Kita puasa dari makanan yang halal, tapi tetap “berbuka”
Diet Karbohidrat, Tapi “Karnivora” Ghibah
Dalam sebuah tamsil yang sangat keras, Al-Quran mengibaratkan orang yang menggunjing saudaranya seperti orang yang memakan daging saudaranya yang sudah mati. Bayangkan betapa menjijikkannya: Kita menolak makan ayam yang disembelih dengan bismillah hanya karena jam menunjukkan pukul dua siang, tapi di saat yang sama, kita lahap memakan “bangkai” harga diri teman, tetangga, atau publik figur yang sedang viral.
Kritik kita hari ini adalah soal prioritas moral. Banyak dari kita yang merasa puasanya masih “aman” selama tidak ada benda padat yang masuk ke mulut. Padahal, Nabi SAW pernah memperingatkan bahwa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan haus. Mengapa? Karena mulutnya mungkin kosong dari roti, tapi penuh dengan racun kebencian.
Standar Ganda Kesalehan
Kita mendadak jadi “Polisi Syariat” saat melihat ada orang makan di tempat umum secara terang-terangan. Kita menghujat mereka seolah-olah mereka adalah pelaku kriminal kelas kakap. Namun, ketika kita sendiri menyebarkan berita bohong (hoax) di media sosial atau membicarakan aib orang lain di kolom komentar, kita merasa tetap menjadi orang saleh.
Ini adalah bentuk kesalehan visual yang palsu. Kita menjaga ritual (tidak makan), tapi mengabaikan esensi (menjaga akhlak). Kita menutup warung makan agar tidak menggoda mata, tapi kita membiarkan “warung fitnah” di kepala kita tetap buka 24 jam penuh.
Kritik Pedas: Jika puasamu hanya memindahkan jadwal makan tanpa mengubah jadwal mencela, maka kamu sebenarnya tidak sedang beribadah. Kamu hanya sedang memindahkan kotoran dari perut ke lidah.
Puasa “Organ Tubuh” yang Lumpuh
Puasa seharusnya bersifat total. Mata berpuasa dari melihat yang buruk, telinga berpuasa dari mendengar aib, dan lisan berpuasa dari kata-kata yang menyakiti.
Sangat miris melihat seseorang yang sedang lemas karena puasa, namun masih punya sisa tenaga yang luar biasa besar untuk mengetik komentar jahat atau berdebat kusir yang tidak berujung. Kita sedang melumpuhkan sistem pencernaan, namun membiarkan sistem “penghancur karakter” kita bekerja lembur.
Akhir Kata: Membersihkan Lidah Sebelum Berbuka
Ramadan 1447 H ini, cobalah untuk lebih takut pada dosa lisan daripada takut pada rasa haus. Haus bisa hilang dalam satu tegukan saat Magrib tiba, tapi luka yang ditimbulkan oleh kata-kata atau fitnah mungkin tidak akan sembuh meski Ramadan sudah berlalu berkali-kali.
Hentikan kebiasaan “makan daging saudara” ini. Jika Anda tidak bisa berkata baik, maka diam adalah bagian dari puasa. Jangan sampai di hari kiamat nanti, Anda membawa tumpukan pahala puasa sebulan penuh, namun semuanya habis dibagikan kepada orang-orang yang pernah Anda sakiti lisan dan hatinya.
Ingatlah: Menahan lapar itu urusan perut, tapi menahan ghibah itu urusan martabat. Mana yang lebih Anda hargai?






























