KEDIRI (KUBUS.ID) – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak nyata hingga ke dapur warga Indonesia. Harga bahan baku plastik di pasar global dilaporkan melonjak drastis, yang kini mulai memberikan tekanan serius pada struktur biaya hidup masyarakat dan operasional pelaku usaha lokal.
Pengamat ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya), Prof. Drs. ec. Wibisono Hardjopranoto, MS, menjelaskan bahwa kenaikan ini merupakan konsekuensi logis karena plastik adalah produk turunan minyak bumi. Melalui proses petroleum, minyak mentah disuling menjadi nafta, lalu diolah menjadi polimer seperti polietilen dan polipropilen. Selama perang di Timur Tengah masih berkecamuk, harga produk turunannya dipastikan akan terus bergejolak.
“Daya tahan APBN kita sedang diuji oleh kondisi geopolitik ini. Kenaikan harga minyak mentah sebesar 1 dolar saja sudah sangat berpengaruh pada anggaran pemerintah,” ujar Prof. Wibisono.
Di tingkat lokal, dampak ini bukan lagi sekadar prediksi. Para produsen makanan hingga pedagang kecil mulai mengeluhkan kenaikan harga kemasan plastik yang kini menembus angka 50 persen. Kenaikan drastis pada biaya kemasan ini memaksa pelaku usaha memutar otak, antara menaikkan harga jual produk atau memangkas margin keuntungan yang kian menipis.
Jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut dalam jangka panjang, masyarakat diimbau bersiap menghadapi efek domino pada harga-harga kebutuhan pokok lainnya yang sangat bergantung pada kemasan plastik. Kini, efisiensi anggaran dan strategi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga menjadi tumpuan utama agar tekanan ekonomi tidak semakin dalam. (far)































