KUBUS.ID – Media sosial membuat Ramadan terasa lebih terbuka. Setiap ibadah bisa dibagikan. Setiap sedekah bisa didokumentasikan. Setiap momen tarawih bisa dijadikan konten. Tidak ada yang sepenuhnya salah dalam berbagi inspirasi. Namun yang sering tak kita sadari adalah dorongan kecil dalam hati: ingin dilihat.
Validasi bekerja secara halus. Satu unggahan mendapat banyak apresiasi, kita merasa dihargai. Unggahan berikutnya sepi respons, kita merasa kurang. Tanpa sadar, ibadah pun bisa menjadi alat untuk menjaga citra.
Haus validasi di bulan suci bisa terlihat dari:
- Gelisah jika kebaikan tidak dipublikasikan
- Membandingkan intensitas ibadah dengan orang lain
- Merasa kurang berarti tanpa apresiasi digital
- Mengukur spiritualitas dari respons public
Padahal, Ramadan adalah ruang privat. Ibadah yang paling tulus sering kali justru tidak diketahui siapa pun. Ketika niat mulai bergeser dari “karena Tuhan” menjadi “karena penonton”, di situlah kualitas spiritual dipertaruhkan.
Mungkin sesekali kita perlu sengaja berbuat baik tanpa membagikannya. Tanpa foto. Tanpa caption. Tanpa notifikasi. Karena ketenangan batin jauh lebih berharga daripada validasi sesaat.






























