KUBUS.ID – Selamat datang di hari keempat Ramadan 1447 H. Saat ini, barangkali jempol Anda sudah lelah menggulir layar yang isinya seragam: foto meja makan penuh takjil dengan caption “Alhamdulillah nikmat-Mu”, video transisi dari baju rumah ke gamis syar’i, hingga foto candid (yang tentu saja diatur) sedang memegang mushaf Al-Quran di pojok masjid yang temaram.
Inilah fenomena Ibadah Konten. Sebuah era di mana nilai sebuah amal tidak lagi diukur dari seberapa tulus ia sampai ke langit, melainkan dari seberapa banyak ia mendapatkan like, share, dan engagement di bumi.
Niat: Antara “Lillahi Ta’ala” atau “Demi Konten”
Dulu, ajaran agama sangat menekankan pada konsep ikhlas—tangan kanan memberi, tangan kiri tidak tahu. Namun, di tahun 1447 H ini, konsep itu nampaknya sudah kedaluwarsa bagi sebagian orang. Sekarang, tangan kanan memberi, tangan kiri memegang smartphone dengan stabilisator terbaik agar momen sedekahnya tidak goyang.
Kritik kita bukan pada teknologinya, tapi pada pergeseran orientasinya. Apakah kita benar-benar ingin menginspirasi orang lain, atau kita hanya sedang membangun citra sebagai “hamba yang saleh”? Ada garis tipis yang sangat berbahaya antara syiar (menyebarkan agama) dan riya (pamer). Dan sering kali, garis itu diterjang tanpa rasa bersalah demi mengejar algoritma.
Estetika yang Membunuh Kekhusyukan
Pernahkah Anda melihat seseorang di masjid yang menghabiskan waktu 10 menit untuk mencari lighting terbaik bagi sajadahnya, lalu setelah memotret, ia justru sibuk mengedit teks dan memilih lagu religi yang pas sebagai latar belakang? Di mana posisi Tuhan saat itu?
Ibadah yang seharusnya menjadi momen intim antara hamba dan Sang Pencipta telah berubah menjadi produksi media. Kita lebih khawatir tentang angle kamera yang membuat wajah terlihat tirus saat tadarus daripada kekeliruan tajwid saat membaca. Kekhusyukan telah digantikan oleh estetika. Kita tidak lagi berbicara kepada Allah dalam doa kita; kita sedang berbicara kepada pengikut (followers) kita melalui doa yang kita tulis di caption.
Kritik Pedas: Kita sedang menyembah pandangan manusia dengan menggunakan atribut Tuhan. Ini adalah bentuk narsisme spiritual yang paling halus sekaligus paling mematikan.
Sedekah “Showbiz”: Eksploitasi Kemiskinan
Puncak dari komodifikasi ibadah ini adalah konten berbagi. Kita sering melihat video orang memberikan makanan kepada tunawisma dengan kamera yang menyorot tajam wajah sang penerima yang sedang menunduk malu atau menangis haru.
Apakah kita pernah berpikir tentang martabat orang yang kita beri? Mengapa kemiskinan mereka harus menjadi latar belakang bagi panggung “kebaikan” kita? Jika tujuan Anda benar-benar memberi, mengapa mereka harus dipaksa masuk ke dalam bingkai konten Anda? Sedekah yang tulus tidak membutuhkan penonton, dan kemuliaan tidak lahir dari jumlah viewers.
Akhir Kata: Berhenti Sejenak, Matikan Layarmu
Ramadan adalah bulan untuk kembali ke dalam, bukan untuk terus-menerus tampil di luar. Jika semua amal kebaikan Anda harus diketahui orang lain agar Anda merasa bermakna, maka sebenarnya Anda tidak sedang beribadah; Anda sedang bekerja sebagai public relations bagi diri Anda sendiri.
Cobalah sekali saja di Ramadan ini: berikan sedekah paling rahasia yang tidak diketahui siapa pun, baca satu juz Al-Quran tanpa memotret sampulnya, dan bangunlah di sepertiga malam untuk sujud tanpa perlu mengunggah update status “Nikmatnya tahajud”.
Rasakan perbedaannya. Rasakan ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh ribuan likes. Karena sejatinya, pengakuan paling tulus adalah saat malaikat mencatat amalmu, meski dunia tidak pernah mengetahuinya.






























