Beranda Opini Kenapa Harus Islamnya Nabi Muhammad?

Kenapa Harus Islamnya Nabi Muhammad?

9

Oleh: Abdul Rohman Sukardi

Pertanyaan dialektis itu menyeruak ke dalam ruang-ruang diskusi aktivis mahasiswa penghujung abad 20. Ketika Indonesia memasuki era kebebasan melalui gerakan reformasi. Pada saat itu ledakan kemerdekaan berfikir menemukan jalan keluarnya secara leluasa. Beragam idiologi berlomba mencari pendukung fanatiknya masing-masing.

Pertanyaan itu sekilas di framing sejalan dengan inti pesan Alqur’an Surat Asysyura, ayat 13. Ajaran kepada Nabi Muhammad Saw., sama yang disyariatkan kepada nabi Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa. Melalui pertanyaan dialektis itu dibelokkan tafsirnya dan di framing. Bahwa semua agama esensinya sama. Mengajarkan jalan menuju Tuhan.

Ayat itu sebenarnya menegaskan syariat Nabi Muhammad merupakan verifikator. Atas deviasi ajaran nabi-nabi sebelumnya. Ajaran Allah Swt kepada para nabi tidak berubah hingga Nabi Muhammad Saw,. Sebagian ummatnyalah kemudian menyimpangkannya.

Pertanyaan “kenapa harus Islamnya Nabi Muhammad?” menggiring pada pertanyaan berikutnya. Apa dasar logis klaim ajaran Islamnya Nabi Muhammad itu otoritatif. Sempurna dan benar. Sementara ajaran yang lain tidak otoritatif.

Pertanyaan ini akan mengantarkan penganut “Islam dogmatis” menjadi ragu pada imannya. Pada sejumlah kasus, bergeser menjadi agnostik. Ragu keberadaan Tuhan. Bukan ateis (tidak percaya pada Tuhan), juga tidak teis (percaya Tuhan). Pada level moderat akan muncul pemahaman, bahwa semua agama sama. Pada saat bersamaan pijakan keimanan pada agamanya menjadi keropos.

Islam bukanlah agama dogma. Bukan agama doktrin. Melainkan agama akal. Kebenaran Islam bisa dibuktikan oleh akal sehat. Bahkan oleh pembuktian sains. Ketika anak-anak muslim hanya berbekal/ dibekali “Islam dogma”, akan rawan mengalami erosi iman. Pada saat memasuki diskursus dalam belantara idiologi. Porsi pelajaran agama di sekolah-sekolah sangat minim. Kebanyakan fokus fiqh (tata cara ibadah) dan sedikit ajaran tauhid. Tidak banyak dibekali cara menjawab pertanyaan dialektis seperti itu.

Sejumlah cedekiawan barat menemukan pembuktian kebenaran ayat-ayat Al Qur’an. Informasi Al Quran jauh sebelum kebenaran itu dibuktikan oleh sains modern. Pembuktian ini tidak bisa ditampilkan oleh kitab-kitab agama lain. Sains abad modern telah membuktikan kebenaran Al Qur’an. Klaim Alqur’an atas kebenaran informasi yang dibawanya tidak terbantah. Itulah dasar logis kemutlakan kebenaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw.

Implikasi pembuktian sains itu menegaskan otentifikasi sumber dan konten. Al Qur’an pasti bersumber pada produsen kehidupan. Ia mengetahui jauh sebelum dibuktikan oleh sains modern. Secara konten menegaskan kebenaran klaim Al Quran Surat Al Baqarah ayat 2. “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. Maka seluruh isinya benar adanya.

Salah satu isi penting Al Qur’an adalah Allah Swt., merupakan produsen kehidupan. Memberi guidance kepada manusia yang diciptakannya melalui kitab-kitabnya. Menurunkan para penunjuk jalan kehidupan pada diri nabi dan rasul. Muhammad Saw., merupakan nabi dan rasul terakhir.

Pembuktian sains itu antara lain, teori big bang (QS. Al-Anbiya: 30), garis edar tata surya (QS. Al-Anbiya: 33), api dasar laut (QS. At-Tur: 6), sungai dasar laut (QS. Al-Furqan: 53), air laut yang tidak menyatu (QS. Ar-Rahman: 19-20). Teori tentang penciptaan manusia (QS. Al Waqi’ah:57-59), gunung sebagai pasak bumi (QS Al Anbiya:31 dan An Naba’ 6-7), otak pengendali gerak (QS. Al Alaq:15-16), besi tidak bersumber dari bumi (Q.S Al Hadiid: 25), relativitas waktu (QS:Al Hajj:47, QS As Sajdah: 5 dan QS: Al Ma’aarij ayat 4.

Kita bisa membayangkan betapa tidak mudahnya generasi sebelum sains modern memahami klaim kebenaran Al Qur’an. Generasi modern telah dihamparkan fakta-fakta tak terbantah dari kebenaran Al Qur’an. Walaupun putusan akhir setiap individu kembali pada keimanan itu sendiri.

Menjadi tantangan kaum pendidik muslim, untuk membekali generasi muda muslim dengan pemahaman “ratio legis” (alasan logis) tetang kebenaran tauhid. Kebenaran ajaran Islam. Tidak hanya semata-mata mengajarkan dogma. Agar menjadi benteng generasi muslim dalam memasuki belantara dialektika idiologi. Terkadang tema-tema dielaktika itu bisa menjadi pemicu erosi iman. Jika tidak dibekali menjawabnya.

ARS ([email protected]), Jaksel, 14-03-2023

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini