Beranda Nasional Harlah 100 Tahun, KH Nasaruddin Umar: NU Pesantren Besar Penjaga Akhlak dan...

Harlah 100 Tahun, KH Nasaruddin Umar: NU Pesantren Besar Penjaga Akhlak dan Persatuan Bangsa

130
KH Nasaruddin Umar: NU Pesantren Besar Penjaga Akhlak dan Persatuan Bangsa (Foto: Nu Online)

JAKARTA, (KUBUS.ID) – Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Nasaruddin Umar menegaskan Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar organisasi keagamaan. NU, kata dia, adalah pesantren besar berskala kebangsaan yang merawat tradisi keilmuan, akhlakul karimah, sekaligus menjaga keutuhan Indonesia.

Penegasan itu disampaikan KH Nasaruddin dalam pidato puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 Masehi NU di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2026). “Sesungguhnya Nahdlatul Ulama itu adalah pesantren besar. Di dalamnya hidup dinamika akademik dan keilmuan dengan berbagai tradisi mazhab,” ujarnya, dikutip dari NU Online.

Menurut KH Nasaruddin, pesantren dan NU adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. NU merupakan pesantren dalam skala nasional, sementara pesantren adalah wajah konkret nilai-nilai NU. “Pondok pesantren itu tidak bisa dipisahkan dari NU, karena pondok pesantren itu sendiri adalah NU besar,” tegasnya.

Ia menyoroti kuatnya tradisi akhlak di pesantren yang menjadi fondasi karakter NU. Relasi santri dan kiai, lanjut dia, dibangun di atas adab, keteladanan, dan rasa hormat, meski perbedaan pendapat tetap terbuka. “Sekalipun ada perbedaan pandangan, akhlakul karimah santri tetap menyertai sikapnya terhadap kiai,” tuturnya. Nilai akhlak itulah yang menjadi penyangga NU menghadapi dinamika internal maupun tantangan eksternal.

Dalam kesempatan itu, KH Nasaruddin juga menggambarkan NU sebagai keluarga besar yang inklusif. Dinamika boleh terjadi, tetapi ikatan kebersamaan tetap terjaga. “NU ini seperti keluarga besar. Di dalamnya penuh dinamika, tetapi tetap satu keluarga. Tidak ada orang luar, karena orang lain pun bisa menjadi orang dalam,” katanya.

Selama satu abad perjalanannya, NU dinilai konsisten berkontribusi menumbuhkan kekuatan bangsa melalui keterlibatan aktif warga nahdliyyin. Dalam konteks kemajemukan Indonesia, KH Nasaruddin menegaskan komitmen NU pada moderasi beragama yang berakar dari tradisi pesantren. Moderasi, menurutnya, bukan menyeragamkan perbedaan. “Yang sama tetap kita samakan, yang berbeda kita akui berbeda. Itulah prinsip moderasi,” jelasnya.

Ia mengingatkan, memaksakan keseragaman atau menyamakan hal-hal yang berbeda justru berpotensi merusak tatanan sosial dan kebangsaan. Memasuki abad kedua, NU dituntut tetap setia pada jati diri sebagai pesantren besar penjaga akhlak, keilmuan, dan persaudaraan, sekaligus adaptif terhadap perubahan zaman.

“Kekuatan NU bukan semata pada struktur organisasi, melainkan pada nilai-nilai pesantren yang hidup dalam perilaku warganya. Nilai-nilai itulah penopang penting keutuhan bangsa Indonesia,” pungkasnya.(adr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini