KUBUS.ID – Tantrum adalah ledakan emosi yang umum terjadi pada anak, terutama usia balita hingga prasekolah. Bentuknya bisa berupa menangis keras, berteriak, melempar barang, hingga berguling di lantai. Meski sering membuat orang tua kewalahan, tantrum sebenarnya adalah sinyal bahwa anak belum mampu mengelola emosinya dengan baik.
Alih-alih hanya menghentikan perilakunya, pendekatan emosional membantu orang tua memahami akar perasaan anak dan membimbingnya belajar regulasi emosi.
Mengapa Anak Mengalami Tantrum?
Beberapa penyebab umum tantrum antara lain:
- Lelah atau lapar
- Frustrasi karena keinginan tidak terpenuhi
- Kesulitan mengungkapkan perasaan dengan kata-kata
- Mencari perhatian
- Terlalu banyak stimulasi (ramai, bising, gadget)
Tantrum bukan tanda anak “nakal”, tetapi tanda ia sedang kewalahan secara emosional.
Prinsip Pendekatan Emosional Saat Tantrum
Pendekatan emosional berfokus pada empati, validasi perasaan, dan pembelajaran, bukan hukuman atau bentakan.
1. Tetap Tenang Lebih Dulu
Emosi orang tua sangat memengaruhi situasi. Jika orang tua ikut marah, tantrum bisa semakin parah. Ambil napas dalam, tenangkan diri sebelum merespons.
Anak belajar regulasi emosi dari cara orang tuanya bereaksi.
2. Validasi Perasaan Anak
Validasi bukan berarti menyetujui perilakunya, tetapi mengakui perasaannya.
Contoh:
“Adek marah ya karena tidak boleh beli mainan?”
“Ibu tahu kamu kecewa.”
Kalimat seperti ini membuat anak merasa dipahami.
3. Berikan Pelukan atau Sentuhan (Jika Anak Mau)
Beberapa anak merasa lebih tenang dengan pelukan. Namun jika anak menolak disentuh, beri ruang sejenak sambil tetap berada di dekatnya agar ia merasa aman.
4. Gunakan Suara Lembut dan Kalimat Sederhana
Saat tantrum, otak anak sedang dikuasai emosi. Hindari penjelasan panjang. Gunakan kalimat singkat dan jelas.
“Kita tidak bisa beli sekarang. Kita pulang dulu, ya.”
5. Arahkan Setelah Emosi Mereda
Setelah anak lebih tenang, ajak bicara perlahan:
“Tadi kamu marah. Lain kali kalau marah, bisa bilang ke Ibu, ya.”
Ini membantu anak belajar mengenali dan menyebutkan emosinya.
6. Konsisten dengan Batasan
Empati tidak berarti semua keinginan dituruti. Tetap tegaskan aturan dengan tenang dan konsisten. Anak butuh batasan yang jelas untuk merasa aman.
Kesalahan yang Perlu Dihindari
- Membentak atau mempermalukan anak di depan umum
- Mengancam secara berlebihan
- Langsung menuruti semua keinginan agar cepat diam
- Mengabaikan perasaan anak sepenuhnya
Respons yang salah bisa membuat anak belajar bahwa emosi harus ditekan atau bahwa tantrum adalah cara efektif untuk mendapatkan sesuatu.
Mencegah Tantrum Sejak Awal
Beberapa langkah preventif:
- Pastikan anak cukup tidur dan makan
- Beri pilihan sederhana (“Mau pakai baju merah atau biru?”)
- Siapkan anak sebelum perubahan aktivitas
- Batasi screen time berlebihan
- Luangkan waktu khusus untuk quality time
Anak yang merasa diperhatikan dan dipahami cenderung lebih stabil emosinya.
Penutup
Tantrum adalah bagian dari proses tumbuh kembang anak dalam belajar mengelola emosi. Dengan pendekatan emosional, orang tua tidak hanya meredakan ledakan sesaat, tetapi juga membantu anak membangun kecerdasan emosional jangka panjang. Ketika anak merasa dimengerti, ia akan belajar bahwa emosi bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dipahami dan dikelola.






























