KUBUS.ID – Dalam hubungan apa pun pasangan, keluarga, maupun rekan kerja konflik adalah hal yang wajar. Namun, cara menyikapinya yang menentukan kualitas hubungan tersebut. Salah satu pola yang sering muncul saat marah adalah silent treatment atau mendiamkan seseorang sebagai bentuk hukuman emosional.
Sekilas terlihat sebagai cara “menenangkan diri”, tetapi jika dilakukan untuk menghindari atau menghukum, silent treatment justru memperkeruh masalah.
Apa Itu Silent Treatment?
Silent treatment adalah sikap sengaja mengabaikan, tidak merespons, atau menolak berkomunikasi untuk menunjukkan kemarahan atau kekecewaan.
Berbeda dengan mengambil jeda sehat untuk menenangkan diri, silent treatment biasanya bertujuan:
- Membuat pasangan merasa bersalah
- Mengontrol situasi
- Menghindari tanggung jawab komunikasi
Dalam jangka panjang, pola ini bisa merusak rasa aman dan kepercayaan.
Mengapa Silent Treatment Berbahaya?
- Menimbulkan kecemasan dan kebingungan
- Membuat masalah tidak terselesaikan
- Memicu asumsi negatif
- Menciptakan jarak emosional
Hubungan yang sehat membutuhkan komunikasi, bukan penghindaran.
Cara Mengelola Konflik Tanpa Silent Treatment
1. Ambil Jeda yang Sehat, Bukan Menghilang
Jika emosi sedang tinggi, ambil waktu sejenak untuk menenangkan diri. Namun, sampaikan dengan jelas.
Contoh:
“Aku lagi emosi sekarang. Boleh kita lanjut ngobrol 30 menit lagi setelah aku tenang?”
Ini berbeda dengan tiba-tiba diam tanpa penjelasan.
2. Gunakan Bahasa yang Fokus pada Perasaan
Alih-alih menyalahkan, ungkapkan perasaan pribadi.
“Kamu bikin aku marah terus!”
“Aku merasa kecewa dengan situasi tadi.”
Bahasa yang lebih personal mengurangi sikap defensif.
3. Dengarkan Tanpa Memotong
Sering kali konflik membesar karena kedua pihak sama-sama ingin menang. Cobalah:
- Mendengar sampai selesai
- Mengulang inti ucapan pasangan
- Memastikan pemahaman sebelum merespons
Mendengar adalah bagian penting dari penyelesaian konflik.
4. Fokus pada Masalah, Bukan Menyerang Pribadi
Hindari membawa kesalahan lama atau menyerang karakter.
Alihkan pembahasan pada:
- Situasi spesifik
- Solusi konkret
- Perubahan yang bisa dilakukan
5. Sepakati Aturan Konflik yang Sehat
Setiap hubungan sebaiknya memiliki “aturan main”, misalnya:
- Tidak menghina
- Tidak mengungkit masa lalu
- Tidak meninggalkan pembicaraan tanpa kesepakatan waktu kembali
Aturan ini membantu konflik tetap terkendali.
6. Belajar Mengelola Emosi
Konflik sering kali dipicu oleh emosi yang tidak terkelola. Latih diri dengan:
- Pernapasan dalam
- Menunda respons saat marah
- Menulis perasaan sebelum berbicara
Mengelola emosi bukan berarti menahan, tetapi mengekspresikan dengan cara yang sehat.
Tanda Konflik Dikelola Secara Dewasa
- Masalah diselesaikan, bukan ditunda terus-menerus
- Tidak ada rasa takut untuk berbicara
- Kedua pihak merasa didengar
- Ada solusi, bukan sekadar saling diam
Konflik yang sehat justru bisa memperkuat hubungan jika dikelola dengan benar.
Penutup
Silent treatment mungkin terasa mudah dan cepat, tetapi tidak menyelesaikan akar masalah. Hubungan yang kuat dibangun dari keberanian untuk berbicara, mendengar, dan mencari solusi bersama.
Konflik bukan musuh hubungan. Cara kita mengelolanya lah yang menentukan apakah hubungan itu tumbuh atau justru menjauh.






























