Beranda Nasional Nyekar: Tradisi Melepas Rindu, Menyambung Rasa, Menggerakkan Perekonomian

Nyekar: Tradisi Melepas Rindu, Menyambung Rasa, Menggerakkan Perekonomian

15
dok. ilustrasi nyekar di pemakaman (AI)

Bulan Ramadan selalu identik dengan momen “hiruk-pikuk” dan serba-serbi yang menyertai. Tidak hanya persoalan perbedaan permulaan puasa yang selalu diperdebatkan, rancangan buka bersama “bukber” yang mulai muncul (meskipun mulai puasa saja belum), dan sejumlah tradisi yang tetap dilestarikan hingga saat ini, salah satunya ziarah kubur yang biasa dikenal sejumlah daerah sebagai nyekar/nyadran.

Setidaknya selama sepekan menjelang Ramadan tiba, tradisi nyekar dimulai. Jalanan tiba-tiba dipenuhi pengendara dari luar kota yang berseliweran, pedagang bunga dadakan, hingga tempat pemakaman umum yang mulai ramai.

Tradisi ini dianggap sebagai momen untuk melepas rindu, memutar waktu, menyambung rasa dengan sanak saudara yang sudah tiada. Banyak yang menganggap momen nyekar, terlebih saat menjelang Ramadan, sebagai momen introspeksi diri sekaligus simbol meminta maaf untuk membersihkan diri sebelum memasuki bulan suci.

Secara teologis, ziarah kubur memang punya dasar kuat dalam hadis Nabi ﷺ, di antaranya yang diriwayatkan dalam Sahih Muslim: “Berziarahlah ke kubur, karena ia mengingatkan kalian pada akhirat.” Namun, pengkhususan waktu menjelang Ramadan atau sebelum lebaran bukanlah perintah khusus. Ia tumbuh sebagai kebiasaan sosial—sebuah kesepakatan kultural bahwa sebelum memasuki bulan suci, manusia perlu “menyapu halaman batin”-nya.

Nyekar sebagai Momen Transfer Memori Lintas Generasi

Tradisi nyekar bukan hanya soal mengirim doa, namun juga momen bercerita memori kebaikan para leluhur, kenangan para orang tua, kakek-nenek, untuk generasi-generasi anak cucu. Orang tua menunjuk satu nama, lalu bercerita: tentang kerja keras, tentang masa sulit, tentang pilihan hidup. Makam menjadi arsip yang tak tertulis. Dalam suasana hening itu, identitas keluarga dirawat tanpa seremoni besar. Terkadang ada cerita-cerita yang baru diketahui pascanyekar, entah cerita lucu hingga pelajaran hidup yang diajarkan sewaktu itu.

Semua dilakukan dengan harapan selain mengirim doa, kebaikan-kebaikan almarhum/almarhumah selalu diteruskan untuk generasi selanjutnya.

Nyekar sebagai Jembatan Rasa

Pada dimensi psikologis, tradisi nyekar selalu menjadi tempat tersendiri. Terkadang ada momen dimana tidak banyak keluarga yang bisa berziarah bersama atau karena seseorang memang tidak banyak memiliki keluarga yang tersisa.

Momen ini sebagai sarana berdamai dengan keadaan, mengungkap semua hal yang belum terucap, hingga menenangkan diri ditengah arus kehidupan yang mengalir deras.
Bunga yang ditabur mungkin sederhana, tetapi ia menandai pengakuan: bahwa hubungan tidak benar-benar selesai oleh kematian.

Bukan semata pada tabur bunga atau bacaan tahlilnya, melainkan pada kemampuannya menjaga manusia tetap terhubung—dengan keluarganya, dengan sejarahnya, dan dengan kesadaran bahwa setiap awal selalu didahului oleh ingatan.

Tradisi Nyekar sebagai Penggerak Ekonomi

Selain sebagai ruang batin dan perawatan ingatan, nyekar juga menghadirkan denyut ekonomi yang terasa nyata. Menjelang Ramadan, kompleks makam di berbagai daerah di Indonesia berubah menjadi pusat aktivitas musiman. Pedagang bunga tabur, penjual air mineral, hingga tukang parkir mendapatkan limpahan pengunjung. Permintaan mawar, melati, dan kenanga meningkat, menggerakkan petani bunga, pengepul, sampai pedagang kecil di pasar tradisional.

Rantai ekonomi ini bekerja secara senyap namun konsisten setiap tahun. Modal yang dibutuhkan relatif kecil, sehingga tradisi nyekar membuka ruang partisipasi luas bagi warga sekitar. Seorang ibu rumah tangga bisa berjualan bunga di depan makam, pemuda desa membantu parkir kendaraan, dan pengrajin nisan menerima pesanan perbaikan atau pengecatan ulang. Tradisi spiritual itu menjelma menjadi seasonal economy yang menyokong pendapatan keluarga.

Di titik ini, nyekar menunjukkan wajah lain kebudayaan: ia bukan hanya ritual simbolik, tetapi juga mekanisme sosial yang menggerakkan kesejahteraan.

Tradisi nyekar memang begitu kompleks. Banyak yang mendapatkan berkah selain pribadi yang lebih tenang, pahala dari doa-doa dilantunkan, hingga warga sekitar yang mengais rupiah untuk tambahan “modal” lebaran. Ditengah era digitalisasi ini, tradisi datang langsung yuntuk berziarah tetap bertahan karena semua aspek diatas mungkin efeknya tidak akan sama jika hanya melalui gawai di genggaman. (nhd)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini