KUBUS.ID – Selamat datang di Ramadan 1447 H. Bulan yang katanya penuh rahmat, namun sering kali kita awali dengan kepanikan yang tidak masuk akal.
Jika kita pergi ke supermarket atau pasar tradisional selama dua hari terakhir, kita tidak akan melihat wajah-wajah yang sedang bersiap untuk tenang dan kontemplatif. Yang kita lihat adalah medan perang. Kereta belanja yang saling sikut, antrean kasir yang mengular layaknya pembagian BLT, dan rak-rak minyak goreng serta sirup yang mendadak ludes seolah-olah besok pagi matahari tidak akan terbit lagi.
Kita terjebak dalam sebuah fenomena sosiologis yang memuakkan: panic buying takwa. Sebuah paradoks di mana kita bersiap untuk “menahan diri” dengan cara “menimbun barang”.
Puasa atau Masa Paceklik?
Secara harfiah, puasa adalah imsak (menahan). Menahan haus, lapar, dan nafsu. Namun, perilaku panic buying yang kita lakukan menunjukkan mentalitas yang sebaliknya. Kita tidak sedang bersiap untuk puasa; kita sedang bersiap untuk menghadapi kiamat kecil.
Ada ketakutan bawah sadar bahwa jika kita tidak memiliki stok daging rendang atau kaleng biskuit yang cukup di dapur, maka ibadah kita tidak akan sah—atau minimal, tidak akan “estetik”. Padahal, sejarah mencatat bahwa Rasulullah SAW sering kali berbuka hanya dengan beberapa butir kurma dan air. Bandingkan dengan kita: satu troli belanjaan penuh hanya untuk memastikan perut tidak “kaget” di hari pertama. Bukankah ini bentuk ketidakpercayaan kita pada esensi kecukupan yang diajarkan agama?
Logika Terbalik: Menimbun Demi Menahan
Di mana letak logikanya? Kita diminta untuk merasakan penderitaan mereka yang kekurangan, namun kita justru memicu kenaikan harga pasar (inflasi) karena permintaan yang melonjak tajam.
Setiap kali Anda memasukkan selusin botol sirup ke dalam keranjang hanya karena takut kehabisan, Anda sedang berkontribusi membuat harga barang tersebut naik bagi mereka yang benar-benar kesulitan. Panic buying adalah bentuk egoisme yang dibungkus dengan label religius. Kita memborong sembako seolah-olah lambung kita akan membesar dua kali lipat selama bulan suci ini. Padahal, frekuensi makan kita justru berkurang dari tiga kali menjadi dua kali sehari. Kita lebih takut kulkas kosong daripada hati yang kosong dari rasa empati.
Ibadah yang “Dibajak” Kapitalisme
Fenomena ini tidak lepas dari keberhasilan industri marketing yang mencuci otak kita. Kita dikondisikan untuk percaya bahwa Ramadan adalah bulan “pesta makan malam” yang dipindahkan jamnya. Iklan-iklan di televisi dan media sosial sukses membuat kita merasa “kurang” jika tidak menyajikan hidangan mewah saat berbuka.
Akibatnya, spiritualitas kita terbajak oleh urusan logistik. Ibu-ibu menghabiskan waktu berjam-jam di pasar dan dapur, sementara bapak-bapak pusing memikirkan pengeluaran yang melonjak 300% di bulan yang katanya bulan keprihatinan. Jika energi kita habis hanya untuk memikirkan “besok buka pakai apa”, lantas kapan kita punya waktu untuk memikirkan “tadi siang saya sudah berbuat baik apa?”
Menguji Isi Kepala, Bukan Isi Keranjang
Ramadan 1447 H seharusnya menjadi momentum untuk berhenti menjadi budak konsumsi. Jika di hari pertama ini rumah Anda sudah penuh dengan timbunan barang, tanyakan pada diri sendiri: Apakah saya sedang menjemput takwa, atau sedang memanjakan ketakutan?
Berhenti memperlakukan Ramadan seperti festival kuliner sebulan penuh. Kembalikan puasa pada khitahnya: menyederhanakan hidup agar ruhani punya ruang untuk bernapas. Karena pada akhirnya, Tuhan tidak melihat seberapa penuh meja makanmu saat Magrib, tapi seberapa tulus kendalimu saat syahwat konsumsi itu datang menggoda.































