KUBUS.ID – Baru saja kita memasuki gerbang Ramadan 1447 H, namun atmosfer spiritual yang seharusnya tenang dan sejuk, mendadak panas. Bukan karena suhu udara, melainkan karena gesekan jempol di layar ponsel. Selamat datang di era “Perang Sarung” Digital, sebuah fenomena di mana umat lebih sibuk menghitung derajat ketinggian bulan di kolom komentar daripada menghitung sisa umur untuk bertaubat.
Setiap tahun, skenarionya sama. Kita terbelah antara metode Rukyatul Hilal (melihat langsung) dan Hisab Hakiki (perhitungan astronomis). Namun, di tangan netizen, perdebatan saintifik-religius ini berubah menjadi ajang caci maki, klaim paling benar, hingga tuduhan “kurang sunnah” atau “terlalu kaku”.
Teleskop Canggih, Hati yang Rabun
Kita memiliki teknologi paling mutakhir untuk memantau benda langit. Kita punya aplikasi astronomi yang bisa memprediksi posisi bulan hingga ratusan tahun ke depan. Namun, ada ironi yang menyakitkan: mata kita begitu tajam melihat perbedaan derajat di langit, tapi mata hati kita begitu rabun melihat saudara seiman di sebelah rumah.
Debat hilal telah menjadi komoditas ego. Kita lebih bangga menjadi pengikut kelompok tertentu daripada menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Kita merasa paling bertakwa jika berhasil “menumbangkan” argumen lawan debat soal tanggal 1 Ramadan, sementara lisan kita masih basah dengan ghibah dan jari kita masih lincah mengetik ujaran kebencian.
Hilal yang Dicari, Kesiapan yang Lari
Bayangkan seorang tamu agung akan datang ke rumah anda. Apakah anda akan menghabiskan waktu berhari-hari berdebat dengan tetangga tentang apakah tamu itu datang jam 5 atau jam 6 sore, sementara rumah anda masih berantakan, sampah menumpuk, dan jamuan belum siap?
Itulah kita hari ini. Kita sibuk meributkan “kapan” Ramadan dimulai, sampai kita lupa “bagaimana” seharusnya kita memulai. Kita sibuk mencari hilal di ufuk barat, tapi lupa mencari “hilal” keikhlasan di dalam dada. Energi kita terkuras untuk urusan administratif kalender, sehingga ketika Ramadan benar-benar tiba, kita sudah kelelahan secara mental. Kita memasuki bulan suci dengan sisa-sisa amarah dari kolom komentar.
Ramadan bukan tentang siapa yang paling cepat memulai, tapi tentang siapa yang paling sungguh-sungguh menjalani.
Fanatisme Golongan di Atas Ukhuwah
Fenomena ini mengungkap borok lama: fanatisme golongan yang akut. Perbedaan satu hari sering kali dianggap sebagai pemisah iman. Media sosial berubah menjadi ring tinju digital di mana dalil dilemparkan layaknya pukulan hook.
Padahal, para ulama terdahulu sudah memberikan ruang toleransi yang sangat luas dalam masalah ijtihadi ini. Mengapa kita yang hanya bermodal “copas” (copy-paste) tulisan dari grup whatsApp merasa lebih berhak menghakimi daripada mereka yang menghabiskan umur mempelajari ilmu falak? Kita telah menjadikan hilal sebagai sekat, bukan sebagai rahmat.
Berhenti Membidik Bulan, Mulailah Membidik Diri
Ramadan 1447 H telah menyapa. Apakah kita akan membiarkan 30 hari ini berlalu dengan sisa-sisa perdebatan hilal yang tak akan pernah usai hingga kiamat?
Bulan (hilal) itu akan tetap beredar pada orbitnya, patuh pada perintah sang pencipta. Yang justru sering keluar dari orbit adalah hati kita. Berhentilah menjadi “polisi tanggal” di media sosial. Biarkan otoritas yang berwenang melakukan tugasnya, dan mulailah kita melakukan tugas kita: membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin yang lebih gelap dari malam tanpa bulan.
Ingatlah, Tuhan tidak akan bertanya di akhirat nanti, “Metode apa yang kau gunakan untuk menentukan 1 Ramadan?” tapi Dia akan bertanya, “Apa yang kau lakukan setelah Ramadan itu tiba?”

































