Beranda Kediri Raya Pertumbuhan Ekonomi Kediri Melambat, BI Dorong Diversifikasi Sektor Unggulan

Pertumbuhan Ekonomi Kediri Melambat, BI Dorong Diversifikasi Sektor Unggulan

34

KEDIRI, (KUBUS.ID) – Kinerja pertumbuhan ekonomi di Kota Kediri pada awal tahun 2026 tercatat mengalami perlambatan dibandingkan sejumlah daerah lain di kawasan Mataraman. Isu ini menjadi perhatian utama dalam forum Harmoni (Hadir untuk Membangun Kolaborasi, Edukasi, dan Sinergi) yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kediri di Bercakap Kopi, Selasa (14/4/2026).

Deputi Kepala Perwakilan BI Kediri, Dea Andarina, menjelaskan bahwa secara spasial, Kota Kediri menempati posisi paling rendah dalam hal pertumbuhan ekonomi di wilayah kerja BI Kediri. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan Kabupaten Pacitan yang justru mencatatkan capaian pertumbuhan tertinggi.

Menurutnya, perlambatan ekonomi di Kota Kediri tidak lepas dari tingginya ketergantungan pada sektor industri pengolahan. Sementara itu, Pacitan dinilai berhasil mengakselerasi pertumbuhan melalui diversifikasi sektor, dari perikanan ke sektor lain seperti pariwisata, industri, serta akomodasi.

“Ke depan, Kediri perlu melahirkan sumber-sumber pertumbuhan baru. Sektor pariwisata memiliki potensi besar untuk dikembangkan, terlebih dengan dukungan infrastruktur bandara yang sudah memadai. Kegiatan seperti Kediri Half Marathon diharapkan mampu menarik kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan sektor perhotelan dan kuliner,” ungkap Dea.

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi di 13 kabupaten/kota dalam wilayah kerja BI Kediri tercatat sebesar 4,31% (year on year), sedikit melambat dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 4,39%. Capaian ini juga masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi Jawa Timur maupun nasional yang berada di kisaran 5%.

Meski demikian, Bank Indonesia menegaskan bahwa ketahanan ekonomi domestik masih relatif kuat. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama aktivitas ekonomi di kawasan Mataraman.

Dari sisi inflasi, hingga Maret 2026 kondisi di beberapa daerah masih terjaga, yakni Kediri sebesar 0,41%, Madiun 0,49%, dan Tulungagung 0,43%. Namun demikian, terdapat sejumlah potensi risiko yang perlu diantisipasi ke depan.

Beberapa faktor yang berpotensi memicu tekanan inflasi antara lain kenaikan harga emas perhiasan akibat dinamika geopolitik global, serta kondisi cuaca ekstrem seperti ancaman La Nina dan fenomena kekeringan yang dapat mengganggu pasokan pangan. Selain itu, kontraksi penyaluran kredit modal kerja sebesar -0,7% juga menunjukkan pelaku usaha masih cenderung berhati-hati dalam berekspansi.

Melalui forum Harmoni, BI Kediri turut mengajak insan media untuk mengambil peran strategis dalam menjaga optimisme masyarakat. Di tengah dinamika perdagangan global dan meningkatnya kebijakan proteksionisme, penyampaian informasi yang akurat dan berimbang dinilai sangat penting agar tidak menimbulkan kekhawatiran berlebihan di tengah masyarakat.

“Upaya penguatan UMKM terus kami lakukan, baik melalui digitalisasi maupun perluasan akses pasar hingga ke tingkat global. Optimisme harus terus dijaga agar partisipasi masyarakat dalam pembangunan ekonomi tetap terjaga,” tutup Dea.(atc)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini