KUBUS.ID – Masuk hari ketujuh Ramadan 1447 H, kita mulai melihat pemandangan yang kontras. Di masjid orang-orang saling bersalaman, namun di jalan raya terutama satu jam menjelang berbuka, suasananya lebih mirip arena Mad Max.
Inilah fenomena “Sumbu Pendek” musiman. Klakson yang menyalak tidak sabar, sumpah serapah yang meluncur dari balik kaca mobil, hingga adu urat leher hanya karena masalah sepele: disalip saat macet. Kita sedang berpuasa, tapi mengapa kita justru menjadi lebih buas dari biasanya?
Puasa “Low Battery” yang Emosional
Banyak dari kita yang memperlakukan puasa seperti baterai ponsel yang sedang low-batt. Karena merasa lemas, lapar, dan haus, kita merasa memiliki “lisensi” untuk menjadi pemarah. Kita menuntut dunia untuk memahami kondisi kita yang sedang berpuasa, namun kita sendiri gagal memahami orang lain.
Kritik tajamnya sederhana: Jika puasa hanya membuatmu menjadi monster di jalan raya, lantas apa bedanya kamu dengan orang yang sedang kelaparan karena bencana? Puasa bukan sekadar memindahkan jam makan, tapi melatih kontrol diri. Jika lapar membuatmu kehilangan akal sehat dan etika, maka yang kamu lakukan hanyalah diet paksa yang berujung emosi, bukan ibadah yang berujung takwa.
Berlari Mengejar Magrib, Menabrak Esensi
Ironi terbesar terjadi saat “War Takjil” dan perjalanan pulang kantor. Kita melanggar lampu merah, melawan arus, dan memaki pengendara lain demi satu tujuan: Berbuka tepat waktu di rumah.
Kita begitu takut telat membatalkan puasa meski hanya satu menit, tapi kita tidak takut membatalkan pahala puasa kita dengan amarah yang meledak-ledak. Kita mengejar sunnah menyegerakan berbuka, namun dengan cara melanggar wajibnya menjaga lisan dan keselamatan orang lain. Bukankah lucu jika kita membatalkan puasa dengan segelas air suci, setelah sebelumnya mulut kita dipenuhi kotoran caci maki?
Kritik Pedas: Kita sanggup menahan godaan gorengan selama 13 jam, tapi tidak sanggup menahan godaan untuk tidak memaki orang yang memotong jalur kita selama 3 detik.
“Hormati Saya, Saya Sedang Puasa!”
Ada mentalitas privilese yang salah kaprah. Kita merasa karena sedang menjalankan perintah Tuhan, maka seluruh dunia harus maklum jika kita menjadi tidak produktif, malas, atau mudah tersinggung.
Padahal, ujian puasa yang sesungguhnya bukan saat kita duduk diam di ruangan ber-AC sambil menunggu azan. Ujiannya adalah saat perut keroncongan, matahari menyengat, dan seseorang melakukan kesalahan di depan kita. Di situlah kelas “Takwa” yang sebenarnya sedang berlangsung. Jika Anda gagal di jalan raya, maka Anda gagal dalam ujian praktik puasa hari itu, meski secara administratif (tidak makan dan minum) Anda dianggap lulus.
Akhir Kata: Lapar yang Bergengsi
Ramadan 1447 H ini, mari kita ubah paradigma. Jangan jadikan lapar sebagai alasan untuk menjadi “galak”. Jangan biarkan puasa kita hanya menjadi tontonan perut yang kosong, sementara hati kita penuh dengan api.
Jika Anda merasa tidak bisa menahan emosi saat berkendara menjelang buka, lebih baik berangkat lebih awal atau justru menepi sejenak saat azan berkumandang. Membatalkan puasa dengan sebotol air di pinggir jalan dengan hati yang tenang jauh lebih mulia daripada berbuka dengan hidangan mewah di rumah namun dengan hati yang masih mendidih karena amarah di jalan tadi.
Ingat, ibadah puasa itu untuk Tuhan, tapi akhlak puasa itu untuk manusia di sekitar kita. Jangan sampai Anda mendapatkan “Lulus” dari Tuhan, tapi mendapatkan “Rapor Merah” dari kemanusiaan.






























