KUBUS.ID – Istilah quiet quitting sempat viral dan memicu perdebatan di dunia kerja. Sebagian orang menganggapnya sebagai bentuk menjaga kesehatan mental. Sebagian lain menilainya sebagai sikap kurang profesional.
Lalu, sebenarnya apa perbedaan antara quiet quitting dan profesionalisme? Apakah bekerja “secukupnya” itu salah?
Apa Itu Quiet Quitting?
Quiet quitting bukan berarti benar-benar berhenti bekerja. Istilah ini merujuk pada sikap karyawan yang hanya melakukan pekerjaan sesuai deskripsi kerja (jobdesk) tanpa mengambil tanggung jawab tambahan.
Ciri-cirinya:
- Bekerja sesuai jam kerja, tidak lembur berlebihan
- Tidak mengambil tugas di luar tanggung jawab
- Tidak terlalu ambisius mengejar promosi
- Fokus pada keseimbangan hidup
Bagi sebagian orang, ini adalah cara menjaga batas agar tidak burnout.
Apa Itu Profesionalisme?
Profesionalisme adalah sikap bertanggung jawab, berintegritas, dan berkomitmen terhadap pekerjaan.
Ciri profesionalisme:
- Menyelesaikan tugas dengan kualitas terbaik
- Bertanggung jawab atas hasil kerja
- Komunikatif dan kooperatif
- Menghargai waktu dan etika kerja
- Bersedia berkembang dan belajar
Profesionalisme tidak selalu berarti lembur terus-menerus, tetapi menunjukkan dedikasi yang sehat.
Perbedaan Utama Quiet Quitting dan Profesionalisme
1. Soal Batas atau Kepedulian?
- Quiet quitting: fokus pada batas pribadi
- Profesionalisme: fokus pada kualitas dan tanggung jawab
Seseorang bisa menjaga batas tanpa kehilangan profesionalisme.
2. Motivasi Kerja
- Quiet quitting sering muncul karena kelelahan, kurang apresiasi, atau lingkungan kerja toxic.
- Profesionalisme lahir dari komitmen dan etika kerja yang kuat.
3. Sikap terhadap Perkembangan
- Quiet quitting cenderung tidak mencari tanggung jawab tambahan.
- Profesional tetap terbuka pada peluang berkembang, selama wajar dan proporsional.
Apakah Quiet Quitting Selalu Negatif?
Tidak selalu.
Dalam beberapa kondisi, quiet quitting bisa menjadi bentuk self-care, terutama jika:
- Beban kerja tidak realistis
- Tidak ada apresiasi
- Budaya kerja tidak sehat
Namun, jika dilakukan dengan sikap acuh tak acuh, minim komunikasi, atau menurunkan kualitas kerja, maka itu bisa merusak reputasi profesional.
Profesional Tanpa Harus Burnout
Banyak orang keliru mengartikan profesionalisme sebagai:
- Selalu lembur
- Selalu mengatakan “ya”
- Selalu tersedia 24 jam
- Padahal profesionalisme yang sehat adalah:
- Bekerja optimal saat jam kerja
- Menjaga kualitas
- Tetap punya batas
- Komunikatif jika ada kendala
Anda bisa tetap profesional tanpa mengorbankan kesehatan mental.
Cara Menjaga Batas Tanpa Kehilangan Profesionalisme
1. Komunikasikan Beban Kerja
Jika tugas terlalu banyak, sampaikan dengan solusi, bukan keluhan.
2. Kerjakan Tugas dengan Maksimal
Walau hanya sesuai jobdesk, pastikan kualitas tetap terjaga.
3. Tetap Proaktif Secara Sehat
Ambil peluang berkembang yang relevan, bukan karena tekanan sosial.
4. Jaga Etika dan Sikap
Sikap positif dan tanggung jawab tetap menjadi kunci reputasi.
Penutup
Quiet quitting dan profesionalisme bukan dua hal yang harus saling bertentangan. Yang membedakan adalah sikap dan kualitas kerja. Menjaga batas itu penting. Tetapi tetaplah bekerja dengan integritas dan tanggung jawab. Karena pada akhirnya, reputasi profesional dibangun bukan dari seberapa lama Anda bekerja—melainkan dari bagaimana Anda bekerja.






























