Beranda Opini Radio Lokal: Bukan Anti-Tesis, tapi Bukti Bahwa Konteks Menentukan

Radio Lokal: Bukan Anti-Tesis, tapi Bukti Bahwa Konteks Menentukan

2246
Radio Lokal: Bukan Anti-Tesis Tapi Bukti Bahwa Konteks Menentukan (Foto ilustrasi)

Penulis: Ekky Dirgantara

KUBUS,ID – Seharian saya hanya membaca dan merenungkan apa yang ditulis rekan-rekan FDR.. lalu terpikir untuk menulis…..

Radio Lokal: Bukan Anti-Tesis, tapi Bukti Bahwa Konteks Menentukan

Apa yang disampaikan Mas Rofik Huda (CEO Andika Media-Red) tidak membantah kritik tentang mitos radio, justru menguatkan satu tesis utama:

Radio hidup dan bisa sustain jika ia berhasil menjadi solusi lokal yang nyata, bukan karena sistem industri nasional.

Beberapa poin kunci dari pengalaman Andika Kediri penting dicatat secara jujur.

1. Penurunan iklan nasional itu fakta, bukan persepsi

Belanja iklan nasional di radio memang menyusut dan tidak akan kembali seperti era sebelumnya. Maka radio yang masih menggantungkan hidup pada brand nasional sebenarnya sedang menunggu waktu. Dalam konteks ini, Andika Kediri sudah “move on” lebih dulu: 93% pendapatan dari iklan lokal, hanya 7% nasional.
Ini bukan kelemahan ini adaptasi struktural.

2. Iklan lokal besar, tapi tidak otomatis bisa diambil

Pernyataan bahwa budget iklan lokal tidak terpotret dengan baik itu tepat. Tapi yang sering dilupakan: uang lokal hanya mengalir ke media yang dianggap relevan secara sosial, bukan sekadar hadir sebagai saluran iklan.

Andika bisa hidup dari iklan lokal bukan karena FM-nya, melainkan karena:

  • programnya menjawab kebutuhan publik,
  • radionya menjadi trend setter lokal,
  • dipercaya warga sebagai solusi, bukan sekadar hiburan.

Artinya, potensi besar itu tidak pasif. Ia harus direbut lewat peran sosial yang konkret.

3. Nielsen tidak relevan di banyak kota dan itu bukan masalah

Ketiadaan Nielsen di Kediri bukan hambatan, karena pengiklan lokal tidak berpikir dalam logika rating nasional. Mereka berpikir sederhana:
– radio ini didengar orang atau tidak?
– omongan di radio ini berpengaruh atau tidak?
– ketika radio ini bicara, publik bereaksi atau tidak?

Dalam konteks lokal, legitimasi sosial menggantikan metrik statistik. Ini pelajaran penting yang sering gagal dipahami oleh radio yang masih terobsesi validasi industri pusat.

4. Tapi: ini bukan model yang bisa ditiru mentah-mentah

Di sinilah batas pentingnya. Keberhasilan Andika Kediri bukan blueprint nasional, melainkan hasil dari:
– konsistensi bertahun-tahun,
– figur dan kultur internal,
– penerimaan sosial dan politik lokal,
– momentum historis yang tidak bisa diulang.

Radio lain bisa belajar, tapi tidak bisa menyalin. Memaksakan model “radio solusi publik” tanpa legitimasi sosial justru bisa berujung konflik atau penolakan.

5. Kesimpulan jujurnya

Apa yang dialami Andika Kediri membuktikan satu hal penting:

Radio lokal masih bisa hidup, bahkan sehat secara ekonomi, jika ia berhenti berharap pada sistem nasional dan mulai serius mengakar secara lokal.

Namun ini juga sekaligus peringatan:
– tidak semua radio akan mampu atau cocok mengambil peran itu,
– tidak semua kota memberi ruang sosial yang sama, dan
– tidak semua manajemen siap membayar harga konsistensi jangka panjang

Radio yang “berdamai dengan keadaan” sebenarnya sedang memilih: bertahan sebagai media minimal, atau bertransformasi menjadi institusi sosial lokal.

Andika memilih yang kedua dan itu pilihan strategis, bukan kebetulan.(*)

*Penulis adalah eks Wartawan Kompas, Konsultan Radio

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini