Beranda Jawa Timur Sejuknya Toleransi: Gereja di Malang Jadi Tempat Transit Ribuan Jamaah Satu Abad...

Sejuknya Toleransi: Gereja di Malang Jadi Tempat Transit Ribuan Jamaah Satu Abad NU

7

​MALANG (KUBUS.ID) – Stadion Gajayana, Malang, menjadi saksi bisu kemeriahan Puncak Resepsi Harlah Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU). Namun, ada pemandangan menarik yang menggetarkan hati di balik hiruk-pikuk acara tersebut. Bukan soal kemegahan panggung, melainkan tentang hangatnya pelukan persaudaraan lintas iman yang tersaji di sudut-sudut kota.

​Lima gereja di Kota Malang secara terbuka membuka pintu mereka sebagai tempat transit bagi para jamaah Mujahadah Kubro yang datang dari berbagai daerah sejak Sabtu malam hingga Minggu pagi.

Salah satu titik yang menjadi sorotan adalah Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) di Jalan S. Supriadi. Sebanyak 1.200 warga Nahdliyin asal Surabaya singgah di sana sebelum melanjutkan perjalanan menuju lokasi acara. Kehadiran mereka disambut langsung dengan senyum hangat oleh jemaat dan pengurus gereja. ​Ketua Majelis Agung GKJW, Natael Hermawan Prianto, menegaskan bahwa ini bukan sekadar bantuan logistik, melainkan wujud nyata dari merawat tenun persaudaraan.

​”Kami menyediakan tempat singgah, makanan, minuman, hingga ruang istirahat bagi para jamaah. Ini adalah ikhtiar kami untuk menjaga relasi khususnya dengan Nahdlatul Ulama,” ujar Natael.

​​Aksi ini rupanya memiliki akar sejarah yang kuat. Natael mengungkapkan, bahwa relasi antara GKJW dan NU sudah terjalin sejak lama. Pada rentang tahun 1974-1981, tokoh bangsa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) rutin mengunjungi Kantor Majelis Agung GKJW untuk mengajar para pendeta mengenai Islamologi. Langkah gereja membuka pintu bagi warga NU merupakan bentuk napak tilas atas warisan persaudaraan yang telah diletakkan oleh Gus Dur. ​ ​

Respon positif datang dari para jamaah. Wakil Ketua PCNU Surabaya, Nurcholis Saleh, menyampaikan apresiasi mendalam atas sambutan luar biasa dari pihak gereja-gereja di Malang.

​”Warga Nahdliyin merasa senang dan sangat terbantu. Hal ini membuktikan secara nyata bahwa relasi lintas agama di Indonesia, khususnya di Jawa Timur, tidak ada kendala sama sekali. Kita semua bersaudara,” ungkap Nurcholis.

​Setelah beristirahat dan memulihkan stamina, para jamaah kemudian diberangkatkan menuju lokasi acara di Stadion Gajayana secara bergiliran pada Minggu dini hari. Pengaturan ini dilakukan secara tertib demi menjaga kelancaran arus lalu lintas di sekitar area acara.

​Peringatan ini menjadi tonggak sejarah baru bagi organisasi Islam terbesar di dunia tersebut dalam mengusung tema kemandirian dan perdamaian global, yang salah satu buktinya tercermin dari indahnya kolaborasi antarumat beragama di Kota Malang.(atc)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini