KUBUS. ID – Selat Hormuz resmi ditutup pada Sabtu (28/2/2026), menyusul ekskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Penutupan jalur energi vital ini langsung mengguncang pasar minyak dan gas global. Harga minyak mentah Brent di pasar Asia pada Senin (2/3/2026) melonjak menjadi 80–81,5 dolar AS per barel (sekitar Rp 1,35–1,37 juta, kurs Rp 16.700). Sementara itu, kapal-kapal niaga tertahan, dan perusahaan pelayaran global menghentikan operasionalnya di kawasan Teluk untuk mengutamakan keselamatan awak dan kargo.
Selat Hormuz adalah selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Secara geografis, selat ini berada di antara Iran di utara dan Oman di selatan.
Pada titik tersempitnya, lebar selat ini hanya sekitar 33 kilometer, dengan jalur pelayaran efektif dua arah masing-masing sekitar 3 kilometer. Lokasi ini membuat Selat Hormuz sangat strategis sekaligus rawan. Selat ini menjadi satu-satunya pintu keluar minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Qatar menuju Asia dan Eropa. Sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia, atau sekitar 20 juta barrel per hari, serta hampir 20 persen gas alam cair (LNG) global melewati jalur ini.(kompas-stm)
copy: kompas.com

































