Beranda Opini Takjil yang Terbuang: Ironi Perut Kenyang dan Tong Sampah yang Muntah

Takjil yang Terbuang: Ironi Perut Kenyang dan Tong Sampah yang Muntah

82

KUBUS.ID – Ada sebuah anomali yang menjijikkan setiap kali Ramadan tiba. Kita diajarkan bahwa bulan ini adalah waktu untuk merasakan lapar, agar kita bisa berempati pada mereka yang tak punya apa-apa. Namun, data sosiologis selalu menunjukkan hal yang sebaliknya: Volume sampah makanan (food waste) melonjak drastis hingga 20% dibandingkan bulan-bulan biasa.

Selamat datang di hari kesembilan Ramadan 1447 H. Hari di mana “lapar mata” kita telah berubah menjadi dosa ekologis yang nyata.

Ambisi Berbuka yang Tidak Realistis

Setiap sore, kita berkeliling berburu takjil seolah-olah lambung kita memiliki kapasitas tangki bahan bakar bus antar kota. Semua tampak menggiurkan: kolak, gorengan, es buah, martabak, hingga jajanan pasar. Kita membelinya dengan nafsu seekor singa yang belum makan seminggu.

Namun, saat azan berkumandang, apa yang terjadi? Dua gelas air dan tiga buah gorengan sudah membuat perut kita menyerah. Akhirnya, sisa makanan yang dibeli dengan penuh ambisi itu hanya berakhir di pojok meja, mendingin, mengeras, dan besok paginya masuk ke tong sampah. Kita membuang makanan di bulan yang katanya mengagungkan rasa lapar. Bukankah ini puncak dari segala ironi?

Berkah yang Menjadi Sampah

Kita sering menggunakan dalil “memuliakan tamu” atau “berbagi berkah” untuk menyiapkan hidangan yang berlebihan. Di acara-acara buka bersama (Bukber) atau jamuan masjid, kita melihat piring-piring yang menyisakan nasi separuh, potongan ayam yang hanya digigit sekali, dan sayuran yang tak tersentuh.

Kita lupa bahwa setiap butir nasi yang terbuang adalah pengkhianatan terhadap keringat petani dan jerit lapar anak-anak di pinggir jalan. Kita berpuasa untuk “merasakan” kemiskinan, namun perilaku konsumsi kita justru sangat borjuis. Kita seolah sedang merayakan kemenangan atas lapar dengan cara menghina makanan.

Kritik Tajam: Jika tong sampahmu lebih penuh di bulan Ramadan daripada bulan-bulan lainnya, maka puasamu baru sebatas memindahkan jadwal makan, belum memindahkan jadwal keserakahan.

Ekosistem Kerakusan

Kapitalisme Ramadan turut berperan di sini. Promo “All You Can Eat” di hotel dan restoran mendorong orang untuk mengambil makanan sebanyak-banyaknya—karena sudah bayar mahal—meski akhirnya tidak termakan. Kita merasa rugi jika tidak memenuhi piring, tapi tidak merasa rugi jika membuang berkah Tuhan ke tempat sampah.

Secara spiritual, membuang-buang makanan adalah perilaku tabzir (mubazir), dan pelakunya disebut sebagai “saudara setan”. Bayangkan, kita beribadah satu bulan penuh, namun di saat yang sama kita menjalin persaudaraan dengan setan lewat sisa-sisa makanan di piring kita.

Akhir Kata: Berhenti Sebelum Kenyang, Membeli Sebelum Lapar Mata

Ramadan 1447 H ini seharusnya menjadi momen audit gaya hidup. Berhenti membeli takjil karena tren. Berhenti mengambil nasi bergunung-gunung di acara Bukber hanya karena gengsi piring terlihat kosong.

Keberhasilan puasa kita bisa dilihat dari seberapa bersih piring kita dan seberapa sedikit sampah organik yang kita hasilkan. Hormatilah makanan sebagaimana Anda menghormati waktu salat Anda. Karena di luar sana, ada jutaan orang yang berdoa hanya untuk mendapatkan setengah dari apa yang baru saja Anda buang ke tempat sampah.

Jangan sampai di akhirat nanti, makanan-makanan yang Anda buang itu menjadi saksi yang memberatkan, karena mereka menuntut keadilan atas keserakahan yang Anda namakan “berbuka puasa”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini