Jawa Timur (KUBUS.ID) – Menanggapi laporan kelangkaan LPG 3 kilogram di sebagian wilayah Kediri Raya, Pertamina Patra Niaga memastikan tengah melakukan pengecekan dan menyiapkan langkah mitigasi. Laporan kesulitan mendapatkan LPG bersubsidi itu muncul di sejumlah wilayah, terutama di Tulungagung dan Blitar.
Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan pihaknya telah menerima laporan kesulitan masyarakat mendapatkan LPG 3 kilogram di tingkat pengecer.
“Informasi sudah kami terima ada laporan kesulitan mencari LPG di tingkat pengecer,” kata Ahad saat mengudara di Radio ANDIKA, Sabtu (21/2) sore.
Menurut Ahad, saat ini tim Pertamina masih melakukan pengecekan untuk mengetahui penyebab meningkatnya konsumsi LPG bersubsidi, khususnya di wilayah Tulungagung dan Blitar.
“Tim kami masih mengecek apa yang menjadi penyebab peningkatan konsumsi utamanya di wilayah Tulungagung dan Blitar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peningkatan konsumsi tersebut diperkirakan berkaitan dengan meningkatnya aktivitas masyarakat menjelang bulan Ramadan. Kondisi ini, menurutnya, kerap menimbulkan kesan stok LPG menipis di tingkat pengecer.
“Kita siapkan mitigasi, kita lihat pola sebelum bulan Ramadan, aktivitas masyarakat meningkat bersama pemda, sehingga ada peningkatan pola konsumsi yang menyebabkan stok seakan menipis di tingkat pengecer,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, Pertamina menyalurkan tambahan LPG 3 kilogram secara fakultatif di sejumlah wilayah.
“Kita sudah tambahkan secara fakultatif 33 ribu tabung di Tulungagung, 32 ribu tabung di Kabupaten Blitar, dan 6 ribu tabung di Kota Blitar. Penyaluran ini lebih tinggi dibandingkan saluran normal,” kata Ahad.
Ahad juga mengingatkan masyarakat bahwa pengecer bukan saluran resmi distribusi. Jika tidak menemukan gas LPG 3kg ditingkat pengecer, ia mengimbau masyarakat segera cari di pangkalan terdekat. Ia juga memastikan pangkalan resmi dilarang menolak pembelian langsung dari masyarakat.
“Pangkalan harus melayani pembelian langsung masyarakat, bukan pengecer. Jika ada pangkalan yang tidak melayani pembelian langsung, harus dilaporkan karena itu bagian dari pengawasan distribusi,” pungkas Ahad.
Sebelumnya, sejumlah aduan masuk ke Gatekeeper Radio ANDIKA terkait sulitnya mendapatkan gas elpiji 3 kg di wilayah Srengat dan Selopuro, Blitar. Warga menyebut kelangkaan sudah terjadi sekitar dua minggu, bahkan jika tersedia harganya mencapai Rp25 ribu per tabung. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Blitar, Darmadi mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Hiswana Migas.
“Tata niaga dan distribusi elpiji merupakan kewenangan Pertamina, sementara tugas kami menyampaikan kondisi yang ada di lapangan,” kata Darmadi. (nhd)

































