Beranda Opini Tarawih “Sprint”: Ketika Sujud Tak Lebih dari Sekadar Gerakan Olahraga Malam

Tarawih “Sprint”: Ketika Sujud Tak Lebih dari Sekadar Gerakan Olahraga Malam

15

KUBUS.ID – Memasuki hari kesebelas Ramadan 1447 H, kelelahan fisik mulai melanda. Efek sampingnya mulai terasa di masjid-masjid: jamaah mulai mencari jalur “jalan pintas”. Ada semacam hukum pasar yang berlaku; masjid yang imamnya membaca surat-surat pendek dan memiliki kecepatan rukuk-sujud layaknya pembalap F1 akan jauh lebih ramai dikunjungi daripada masjid yang imamnya khusyuk dan perlahan.

Selamat datang di fenomena Tarawih Sprint. Sebuah perlombaan kecepatan yang membuat kita bertanya-tanya: Kita ini sedang menghadap Tuhan atau sedang mengejar setoran?

Kecepatan yang Membunuh Tuma’ninah

Dalam fikih, ada syarat sah salat yang disebut tuma’ninah—diam sejenak dan tenang di setiap posisi salat. Namun, di banyak tempat, tuma’ninah telah dikorbankan demi durasi. Rukuk hanya satu detik, sujud hanya sekadar menempelkan dahi lalu mental kembali ke atas.

Bayangkan jika Anda berbicara dengan bos besar atau kekasih Anda dengan kecepatan 500 kata per menit tanpa jeda napas karena ingin cepat-cepat pergi. Itu sangat tidak sopan, bukan? Lantas, mengapa kita merasa “oke-oke saja” melakukan hal itu kepada Sang Pencipta Alam Semesta? Kita ingin pahala 23 rakaat, tapi kita hanya ingin meluangkan waktu 15 menit. Kita ingin hasil maksimal dengan usaha minimal.

Demi Agenda yang Lebih “Penting”

Alasan di balik populernya Tarawih Sprint ini sering kali miris. Kita ingin cepat selesai agar bisa segera kembali ke layar ponsel, agar tidak ketinggalan jadwal nongkrong di kafe, atau sekadar ingin melanjutkan maraton serial film di rumah.

Masjid berubah menjadi “beban administratif” yang harus segera dituntaskan. Kita berdiri di hadapan Tuhan dengan tubuh yang lelah, tapi pikiran kita sudah berada di luar pagar masjid. Shalat yang seharusnya menjadi momen istirahat dari hiruk-pikuk dunia, justru kita perlakukan sebagai gangguan yang harus segera diakhiri.

Kritik Pedas: Jika Anda sanggup duduk berjam-jam menatap layar gawai atau mengobrol di warung kopi, namun merasa tersiksa saat berdiri 7 menit untuk mendengar lantunan ayat suci, mungkin yang bermasalah bukan durasi imamnya, tapi kesehatan jiwa Anda.

Komoditas “Imam Cepat”

Ironisnya, beberapa pengurus takmir masjid sengaja mencari imam yang “cepat” agar jamaahnya tidak pindah ke masjid lain. Ibadah telah menjadi komoditas kompetisi daya tarik massa. Imam tidak lagi berfungsi sebagai pemimpin spiritual, melainkan sebagai “operator mesin salat” yang dituntut memenuhi target waktu.

Padahal, esensi Tarawih berasal dari kata tarwihatun yang berarti “istirahat/santai”. Tarawih didesain agar kita bisa beristirahat sejenak dari urusan duniawi, merenungi ayat demi ayat. Jika Tarawih membuat napas kita tersengal-sengal karena gerakan yang terlalu cepat, maka ia telah kehilangan ruhnya.

Akhir Kata: Kualitas di Atas Kuantitas

Ramadan 1447 H ini, berhentilah mengejar angka jika angkanya kosong. Lebih baik salat 8 rakaat dengan penuh penghayatan, ruku yang tenang, dan sujud yang panjang untuk mengadu pada Tuhan, daripada 23 rakaat yang hanya menjadi latihan aerobik malam hari.

Jangan jadikan ibadahmu sebagai beban yang ingin cepat dibuang. Sebab, bisa jadi di antara sujud yang tergesa-gesa itu, tidak ada satupun yang benar-benar sampai ke langit. Sujudlah seolah itu sujud terakhirmu, karena tidak ada jaminan kita akan bertemu dengan Ramadan tahun depan.

Hargailah waktumu bersama Tuhan, karena Dia-lah yang memberi Anda waktu untuk bernapas setiap hari.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini