KUBUS.ID – Lingkungan kerja idealnya menjadi tempat berkembang, belajar, dan berkolaborasi. Namun kenyataannya, tidak semua orang bekerja di suasana yang sehat. Ada yang menghadapi atasan otoriter, rekan kerja manipulatif, budaya saling menjatuhkan, hingga beban kerja tidak manusiawi.
Lingkungan kerja toxic bisa menguras energi, menurunkan kepercayaan diri, bahkan berdampak pada kesehatan mental dan fisik. Jika belum memungkinkan untuk resign, ada beberapa strategi yang bisa membantu Anda tetap bertahan tanpa kehilangan kendali atas diri sendiri.
1. Kenali Tanda-Tanda Lingkungan Kerja Toxic
Langkah pertama adalah menyadari situasinya. Beberapa cirinya antara lain:
- Komunikasi penuh tekanan dan intimidasi
- Minim apresiasi, banyak kritik menjatuhkan
- Politik kantor berlebihan
- Beban kerja tidak realistis
- Tidak ada batas antara jam kerja dan waktu pribadi
Dengan mengenali tanda-tandanya, Anda bisa lebih objektif dan tidak menyalahkan diri sendiri.
2. Tetapkan Batasan yang Jelas
Batasan (boundaries) sangat penting di lingkungan kerja yang tidak sehat. Misalnya:
- Tidak membalas pesan kerja di luar jam kerja (kecuali darurat)
- Tidak ikut bergosip atau konflik internal
- Mengatakan “tidak” pada tugas tambahan yang tidak masuk akal
Menetapkan batas bukan berarti tidak profesional, tetapi menjaga energi dan kesehatan mental Anda.
3. Fokus pada Kinerja, Bukan Drama
Lingkungan toxic sering dipenuhi drama. Agar tidak ikut terseret:
- Kerjakan tugas sesuai tanggung jawab
- Simpan bukti komunikasi penting (email, chat)
- Hindari membicarakan rekan kerja di belakang
Fokus pada performa akan membantu menjaga reputasi profesional Anda.
4. Bangun Dukungan di Luar Kantor
Jangan jadikan kantor satu-satunya sumber interaksi sosial. Luangkan waktu bersama keluarga, teman, atau komunitas. Dukungan eksternal membantu Anda tetap waras dan melihat situasi secara lebih jernih.
Jika perlu, pertimbangkan konsultasi dengan psikolog untuk mengelola stres kerja.
5. Kelola Emosi Secara Sehat
Lingkungan toxic bisa memicu marah, kecewa, atau frustasi. Kelola emosi dengan cara sehat seperti:
- Olahraga rutin
- Menulis jurnal
- Latihan pernapasan
- Istirahat cukup
Hindari melampiaskan emosi di kantor karena bisa memperburuk situasi.
6. Tingkatkan Skill dan Siapkan Rencana Cadangan
Bertahan bukan berarti selamanya. Gunakan waktu untuk:
- Meng-upgrade keterampilan
- Mengikuti pelatihan atau kursus
- Membangun jaringan profesional
- Memperbarui CV dan LinkedIn
Dengan persiapan matang, Anda punya opsi untuk keluar ketika waktu yang tepat tiba.
7. Evaluasi: Bertahan atau Pergi?
Ada kondisi di mana bertahan justru merugikan kesehatan mental secara serius. Jika sudah muncul tanda seperti:
- Cemas berlebihan setiap hari kerja
- Gangguan tidur terus-menerus
- Burnout berat
- Gangguan kesehatan fisik
Maka penting mempertimbangkan pindah kerja demi kesejahteraan jangka panjang.
Bertahan dengan Strategi, Bukan Emosi
Lingkungan kerja toxic memang tidak ideal, tetapi Anda tetap memiliki kendali atas sikap dan keputusan. Bertahanlah dengan strategi yang matang, bukan dengan emosi yang meledak-ledak.
Ingat, pekerjaan adalah bagian dari hidup, bukan seluruh hidup Anda. Kesehatan mental dan harga diri tetap harus menjadi prioritas utama.






























