Beranda Jawa Timur Usai Dugaan Keracunan Massal, Dinkes Jombang Periksa Menu MBG di Pondok Pesantren

Usai Dugaan Keracunan Massal, Dinkes Jombang Periksa Menu MBG di Pondok Pesantren

25
Makanan dari MBG yang saat ini sedang diuji lab oleh Dinkes Jombang. (Foto. Dinkes Jombang)

JOMBANG, (KUBUS.ID) – Puluhan santri Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah di Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, mengalami mual dan muntah usai menyantap hidangan berbuka puasa pada Jumat (6/3) malam. Menu yang dikonsumsi santri diketahui berupa nasi rawon yang dimasak pihak pondok serta lauk kering dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan, pihaknya langsung bergerak cepat mendatangi lokasi pondok dan mengevakuasi para santri yang mengalami gejala gangguan setelah makan.

“Pertama, semua kita gerakkan. Jadi semua penderita kita datangi ke pondok tersebut. Yang mengalami mual-mual dan gejala gangguan intoleransi makanan langsung kita evakuasi ke Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Mojoagung,” ujar dr. Hexawan saat dikonfirmasi di lokasi kejadian.

Menurutnya, dari sekitar 80 santri yang menyantap hidangan berbuka, tercatat 31 santri mengalami gejala mual dan muntah tidak lama setelah mengonsumsi makanan tersebut.

“Gejalanya itu biasanya seperti intoleransi makanan. Habis makan langsung mual-mual, muntah. Itu gejala klasik ketika tubuh tidak cocok dengan sesuatu yang dikonsumsi,” jelasnya.

Hingga Jumat (6/3/2026) dini hari, kondisi para santri berangsur membaik. Sebanyak 10 santri telah diperbolehkan pulang karena kondisinya sudah membaik, sementara 21 santri lainnya masih menjalani perawatan di rumah sakit.

“Informasi terakhir, 10 pasien sudah bisa pulang karena kondisinya bagus. Sedangkan 21 orang lainnya masih dalam penanganan medis. Insyaallah semuanya tertangani dengan baik,” tambahnya.

Sebagai langkah investigasi, Dinas Kesehatan Jombang telah mengambil sejumlah sampel makanan yang dikonsumsi para santri, termasuk rawon, telur asin, serta sampel muntahan pasien. Sampel tersebut akan dibawa ke laboratorium di Surabaya untuk dilakukan uji lebih lanjut guna mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.

“Kita belum bisa memastikan penyebab pastinya. Rawon dibuat sendiri oleh pihak pondok pesantren. Sementara untuk telur asin masih kita dalami apakah berasal dari SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) atau dari pondok sendiri. Kita harus mencari penyebab pastinya dari mana,” tegasnya.

Meski demikian, ia memastikan seluruh santri dalam kondisi sadar dan mendapatkan penanganan medis secara menyeluruh. Dinas Kesehatan Jombang saat ini masih menunggu hasil uji laboratorium untuk menentukan penyebab kejadian tersebut sekaligus langkah penanganan selanjutnya. (far)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini