Beranda Opini Zakat yang Terlambat: Kewajiban yang Menjadi Sekadar “Administrasi” Akhir Bulan

Zakat yang Terlambat: Kewajiban yang Menjadi Sekadar “Administrasi” Akhir Bulan

1

KUBUS.ID – Masuk hari ketujuh belas Ramadan 1447 H, fokus kita mulai terbelah. Ada yang sibuk dengan Lailatul Qadar, namun lebih banyak lagi yang sibuk dengan urusan duniawi menjelang mudik. Di tengah keriuhan itu, ada satu kewajiban yang sering kita perlakukan seperti membayar tagihan kartu kredit di tanggal jatuh tempo: Zakat Fitrah.

Kita sering kali baru sibuk mencari amil zakat di malam takbiran atau beberapa hari sebelum Lebaran. Alibinya klasik: “Yang penting sebelum salat Id.” Namun, pernahkah kita berpikir dari sudut pandang mereka yang menunggu zakat tersebut?

Zakat Bukan “Uang Kaget” Malam Lebaran

Tujuan utama zakat fitrah, selain membersihkan diri bagi yang berpuasa, adalah untuk memberikan kebahagiaan kepada fakir miskin di hari raya. Mereka perlu makan, mereka perlu merayakan hari kemenangan dengan layak.

Kritik tajamnya adalah: Jika Anda membayar zakat di malam ke-29, kapan amil zakat sempat menyalurkannya? Dan kalaupun tersalurkan di pagi hari Idulfitri, kapan si penerima sempat membeli beras atau memasaknya untuk keluarga? Dengan menunda zakat hingga detik terakhir, kita secara tidak langsung memaksa kaum papa untuk merayakan Lebaran dengan rasa cemas. Kita memberikan hak mereka saat pasar sudah tutup dan kegembiraan sudah dimulai.

Formalitas Tanpa Empati

Bagi banyak orang, zakat fitrah hanya dianggap sebagai “prosedur administratif” untuk melengkapi ibadah puasa. Kita datang ke masjid, menyerahkan uang atau beras, bersalaman dengan amil, lalu merasa urusan selesai. Checklist ibadah terpenuhi.

Padahal, zakat adalah instrumen redistribusi kekayaan. Menunda-nunda zakat menunjukkan bahwa kita tidak benar-benar peduli pada urgensi kebutuhan orang lain. Kita lebih memprioritaskan antrean membeli baju lebaran daripada antrean menunaikan hak orang miskin. Kita ingin puasa kita sempurna, tapi kita tidak peduli jika saudara kita berbuka di hari terakhir dengan rasa kekurangan.

Kritik Pedas: Kita sangat disiplin mengejar diskon “Early Bird” di mall, tapi sangat hobi menjadi “Late Payers” untuk urusan zakat. Dimana letak keadilan nurani kita?

Logika “Sisa” yang Menyakitkan

Seringkali, zakat dan sedekah di akhir Ramadan hanyalah “sisa” dari anggaran belanja kita yang membengkak. Kita menghabiskan jutaan untuk hampers dan hidangan mewah, lalu mengeluarkan zakat yang nominalnya tak seberapa dengan wajah yang merasa sudah paling dermawan.

Zakat yang terlambat adalah simbol dari keberagaman kita yang masih bersifat mekanis. Kita tahu hukumnya, tapi kita kehilangan ruhnya. Kita mengikuti tenggat waktu fikih, tapi kita mengabaikan tenggat waktu kemanusiaan.

Akhir Kata: Berikan Hak Mereka Saat Mereka Membutuhkannya

Ramadan 1447 H ini, jangan tunggu sampai suara takbir berkumandang untuk membayar zakat. Tunaikanlah sekarang. Berikan waktu bagi para amil untuk mendistribusikannya secara merata dan tepat sasaran. Berikan waktu bagi para penerima untuk bisa tersenyum dan menyiapkan hidangan lebaran untuk anak-anak mereka.

Jangan biarkan kesalehanmu terhambat oleh sifat menunda-nunda. Karena zakat yang ditunaikan lebih awal bukan hanya soal menggugurkan kewajiban, tapi soal memastikan bahwa di hari kemenangan nanti, tidak ada satu pun perut yang kelaparan karena kelalaian kita yang terlalu asyik dengan diri sendiri.

Ingat, Tuhan tidak butuh uang zakatmu, tapi orang miskin di sekitarmu butuh kepekaanmu. Jangan terlambat menjadi manusia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini