KUBUS.ID – Pemandangan di malam pertama hingga malam ketiga Ramadan 1447 H ini sungguh luar biasa. Masjid-masjid meluap. Saf salat meluber hingga ke teras, parkiran, bahkan menutup separuh badan jalan. Pengurus takmir sibuk menyewa tenda tambahan dan memasang kipas angin uap demi menyambut “gelombang pengungsi spiritual” yang mendadak insaf berjamaah.
Apakah ini manifestasi ketakwaan, atau sekadar ritual “nyekar” tahunan ke rumah Tuhan?
“Musim Semi” yang Berumur Pendek
Kita semua tahu naskah drama ini. Di minggu pertama, masjid adalah tempat paling populer. Semua orang tampil dengan sarung terbaik, mukena bordir terbaru, dan parfum yang wanginya menusuk hidung. Ada semacam kompetisi tak tertulis untuk memperlihatkan bahwa “saya hadir di saf depan”.
Namun, sejarah sosiologi Ramadan di Indonesia selalu berulang dengan pola yang tragis: Hukum Seleksi Alam. Minggu pertama: Saf penuh hingga jalan raya. Minggu kedua: Saf mulai mundur ke dalam pintu masjid. Minggu ketiga: Saf hanya tersisa di barisan depan, dihuni oleh wajah-wajah “pemain lama” yang memang sudah ada di sana sebelum Ramadan datang.
Mengapa rumah Tuhan hanya laku di awal bulan? Apakah Tuhan hanya membagikan pahala di tanggal satu sampai tujuh? Atau jangan-jangan, kita hanya mencintai suasana Ramadan, bukan sang Pemilik Ramadan?
Spiritual “FOMO” (Fear of Missing Out)
Banyak dari kita yang datang ke masjid di awal Ramadan bukan karena panggilan iman yang mendalam, melainkan karena Spiritual FOMO. Kita takut ketinggalan tren. Kita merasa berdosa jika tidak ikut update status sedang berada di masjid favorit yang sedang viral.
Ibadah kita menjadi performatif. Kita lebih peduli pada volume suara imam yang merdu atau dekorasi masjid yang instagramable daripada esensi sujud yang kita lakukan. Ketika euforia itu mulai hambar, ketika rasa kantuk mulai mengalahkan rasa penasaran, dan ketika mall mulai menawarkan diskon “midnight sale”, maka masjid dengan cepat akan kehilangan daya tariknya. Kita memperlakukan masjid seperti pop-up store: ramai dikunjungi saat baru buka, lalu dilupakan saat trennya lewat.
Logika “SKS” (Sistem Kebut Sebulan)
Kritik tajam lainnya adalah mentalitas “SKS” kita dalam beragama. Kita seolah-olah ingin memborong seluruh jatah ibadah setahun hanya dalam beberapa malam pertama. Kita salat Tarawih 23 rakaat dengan semangat berapi-api, tapi begitu pulang ke rumah, kita kembali menjadi pribadi yang pemarah, pelit, dan abai pada tetangga.
Kita mengira bahwa dengan memenuhi masjid di minggu pertama, kita sudah memegang “kartu bebas neraka” untuk sebelas bulan sisanya. Ini adalah penghinaan terhadap logika ibadah. Masjid bukan bengkel tahunan tempat Anda melakukan service besar lalu membiarkan mesin jiwa Anda rusak lagi sepanjang tahun. Masjid adalah SPBU; tempat Anda mengisi bahan bakar secara rutin untuk perjalanan hidup yang panjang.
Tantangan untuk Pengurus Takmir dan Jamaah
Fenomena “Masjid Full House” ini juga menjadi tamparan bagi para pengurus masjid. Sering kali, masjid hanya ramah pada jamaah di awal bulan. Begitu jumlah jamaah menyusut, pelayanan pun ikut surut.
Jika malam ini anda masih semangat berangkat Tarawih, tanyakan pada cermin: “Apakah saya akan tetap ada di sini ketika tenda-tenda di luar sana sudah dibongkar? Apakah saya akan tetap sujud di sini ketika saf-saf sudah mulai lowong dan hanya menyisakan kipas angin yang berputar sepi?”
Jangan bangga menjadi bagian dari kerumunan jika anda hanya berniat menjadi “buih” yang hanyut setelah seminggu. Keberhasilan Ramadan anda tidak diukur dari seberapa sering anda terlihat di saf pertama pada malam-malam awal, tapi dari seberapa konsisten kening anda menyentuh sajadah saat orang lain mulai sibuk memilih baju lebaran.
Mari kita buktikan bahwa Ramadan 1447 H ini berbeda. Mari kita buat para pengurus masjid tetap sibuk menggelar karpet tambahan hingga malam terakhir. Karena sejatinya, iman yang sejati tidak mengenal kata “musiman”.
































